Hujan-Hujan Makan Gurame Bakar di Ikan Bakar Pandu Raya

Rabu, September 09, 2026

MEDAN (patimpus.com) - Hujan deras yang melanda Kota Medan sejak sore tadi membuat perut berontak ingin melahap apa saja. Tentu saja, sudahlah cuacanya dingin ditambah kelaparan lagi.


Dengan memacu sepeda motor, aku menembus curahan hujan mencari lapak makanan sesuai seleraku malam ini. Awalnya aku berhenti di lapak penjual Sate Padang di Jalan Syahbandar di Kampung Aur, Medan Maimun. 



Habis satu porsi ternyata tak membuat perutku kenyang. Aku pun kembali bergerilya ke arah Kampung Baru. Kali ini makanannya harus yang berat-berat.


Mataku tertuju oleh sebuah lapak bernama Ikan Bakar Pandu Raya, yang terletak di Jalan Brigjend Katamso, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. 



Namanya tidak asing, seperti nama sebuah jajanan malam yang terkenal di era tahun 80 sampai 90an di Jalan Pandu Medan, tapi tidak menjual ikan bakar.


Saat duduk di meja makan, pegawai menyodorkan daftar menu. Karena anggaran pas-pasan saja, aku pun memesan Kerapu Sedang seharga Rp 60.000 plus dengan nasi putih dan segelas Teh Manis Panas.



Dari daftar menu yang kulihat, ada beberapa jenis ikan bakar yang mereka sajikan. Dimulai dari yang tertinggi hingga yang terendah.


Seperti ikan Kakap Merah dan Siakap harganya sama-sama mahal. Untuk ukuran besar harganya Rp 110.000 perekor, sedang Rp 90.000 dan kecil Rp 70.000-80.000.


Lalu ada yang termurah yakni ikan Lele, perekor hanya Rp 13.000. Untuk harga ikan bakar lengkapnya silahkan melihat menu.


Tak hanya ikan bakar, usaha pinggir jalan milik Syahrul Tanjung ini juga menjual ayam bakar seharga Rp17.000 sampai 15.000 perporsi. Kemudian ada sayuran Kangkung, Capcai dan Terong Goreng, berikut dengan aneka minumannya.



Lapak ini setiap hari ramai pembeli karena berlokasi di Jalan Brigjend Katamso yang memanfaatkan halaman sebuah rumah toko empat pintu.


Menurut Syahrul Tanjung, usaha yang dia rintis ini sudah berlangsung selama 5 tahun lebih. Awalnya dia membuka usaha Nasi Goreng Pandu Raya, yang berlokasi sekitar 30 meter dari usaha ikan bakar. Karena banyaknya peminat ikan bakar, maka dia pun membuka usaha ikan bakar.


“Usaha ikan ini melihat situasi juga. Jika cuaca bagus ikan akan melimpah, tetapi jika cuaca buruk ikan akan langka karena nelayan tidak berani melaut,” ungkap pemuda perantau dari Sumatera Barat yang beristrikan seorang gadis asal Aceh, Selasa (8/9/2026) malam.


Ayah tiga anak laki-laki semua ini juga berencana mengembangkan usahanya di beberapa daerah termasuk di Kota Binjai Sumatera Utara hingga Kota Padang Sumatera Barat. (don)

» Thanks for reading: Hujan-Hujan Makan Gurame Bakar di Ikan Bakar Pandu Raya

Ekobis

Pendidikan

Hukum

Kesehatan

Komunitas

Jajanan

Peristiwa