‎Unimed Jadi Tuan Rumah Rakernas HAPPENMASI Ke 4 Tahun 2026

Sabtu, September 26, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) - Jurusan Pendidikan Masyarakat Universitas Negeri Medan (UNIMED) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke 4 Himpunan Akademisi dan Program Studi Pendidikan Masyarakat Seluruh Indonesia (HAPPENMASI) Tahun 2026. 

‎

‎Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 23–25 September 2026, di Hotel Grand Mercure Medan dan Digital Library UNIMED ini, mengangkat tema 'Transformasi Keilmuan Pendidikan Masyarakat Menuju Ekosistem PNFI yang Adaptif dan Berdaya saing.' 

‎

‎Rakernas diikuti puluhan peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, di antaranya IKIP Siliwangi, Universitas Insan Cendekia Mandiri, Universitas Ibn Khaldun, Universitas Muhammadiyah Parepare, Universitas Pendidikan Mandalika, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Islam Nusantara, Universitas Muhammadiyah Bulukumba, Universitas Pattimura, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Mulawarman, Universitas Riau, Universitas Singaperbangsa Karawang, Universitas Sriwijaya, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Palangka Raya, Universitas Nusa Cendana, Universitas Jember, Universitas Negeri Makassar, Universitas Negeri Medan, serta Universitas Negeri Manado.

‎

‎Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNIMED, Prof Dr Zainuddin MSi dan turut dihadiri Ketua HAPPENMASI, para wakil dekan, Sekretaris Happenmasi, ketua dan sekretaris jurusan, serta delegasi program studi Pendidikan Masyarakat dari berbagai provinsi di Indonesia.

‎

‎Dalam sambutannya, Prof Dr Zainuddin MSi, menyampaikan Rakernas Happenmasi menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antarlembaga dan program studi Pendidikan Masyarakat di Indonesia.

‎

‎ “Perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta dinamika kebutuhan masyarakat menuntut perguruan tinggi untuk terus melakukan inovasi dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui forum nasional ini, kita berharap lahir berbagai gagasan, program, dan kerja sama yang memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan Pendidikan Masyarakat. Sinergi antarpogram studi harus terus diperkuat agar mampu menjawab berbagai tantangan yang berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.

‎

‎Sementara itu, Ketua Happenmasi, Prof Dr Uyu Wahyuddin MPd, menyampaikan, Rakernas merupakan forum strategis untuk mengevaluasi program organisasi sekaligus menyusun arah kebijakan dan program kerja Happenmasi kedepan dan diharapkan dapat menghasilkan rumusan program kerja yang konkret.

‎

‎“Kegiatan ini juga menjadi ruang bagi para akademisi untuk bertukar gagasan, pengalaman, dan praktik baik dalam pengembangan program studi Pendidikan Masyarakat. Rakernas diharapkan dapat menghasilkan rumusan program kerja yang konkret, memperkuat jejaring akademik antar perguruan tinggi, serta membuka peluang kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, dan peningkatan kualitas lulusan," jelas Uyu Wahyuddin.

‎

‎"Melalui Rakernas Happenmasi ke-4, UNIMED turut menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan jejaring pendidikan tinggi nasional dan pengembangan Pendidikan Masyarakat yang adaptif, kolaboratif, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.” tambahnya.

‎

‎Pada Rakernas ini juga mengundang Prof. Dr. Hafid Abbas (Guru Besar Universitas Negeri Jakarta) sebagai Narasumber General Studium. 

‎

‎Pada kesempatan tersebut, Prof Hafid mengatakan pentingnya memikirkan bagaimana menciptakan dan memperluas peluang kerja bagi lulusan Pendidikan Masyarakat ke depan.

‎

‎“Kita perlu memikirkan bagaimana menciptakan dan memperluas peluang kerja bagi lulusan Pendidikan Masyarakat ke depan. Kompetensi yang dimiliki harus semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Kami sangat berharap Happenmasi dapat menjadi wadah yang mampu memperkuat jejaring, melahirkan inovasi, serta mendorong kolaborasi antar perguruan tinggi agar lulusan Pendidikan Masyarakat semakin adaptif, profesional, dan memiliki ruang kontribusi yang lebih luas di tengah masyarakat,” ujarnya. (rel/Soni)

Sofyan Tan Syukuran Diusia 67, Bagi Beras dan Dorong Pendidikan untuk Ubah Nasib

Jumat, September 25, 2026



MEDAN (patimpus.com) - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, merayakan ulang tahunnya yang ke-67 secara sederhana, Kamis, 25 September 2026.


Alih-alih menggelar perayaan mewah, Sofyan Tan memilih berbagi kasih bersama teman, kerabat dan sahabat kecilnya di kawasan Sunggal.


Di usianya yang ke-67, Sofyan Tan kembali mengingat perjalanan hidup bersama teman-teman masa kecilnya yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan ekonomi. Sebagian dari mereka masih bekerja sebagai penarik becak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


Sebagai bentuk kepedulian sekaligus rasa syukur atas perjalanan hidup yang telah dilaluinya, Sofyan Tan membagikan 67 karung beras kepada 67 penarik becak di sekitar kawasan tempat tinggalnya dahulu di Sunggal.


Pembagian beras tersebut dilakukan di halaman Universitas Satya Terra Bhinneka. Tempat itu memiliki kenangan tersendiri bagi Sofyan Tan karena kawasan tersebut dahulu merupakan hamparan tempat dirinya bermain bersama teman-teman semasa kecil.


Dalam kesempatan tersebut, Sofyan Tan menyampaikan pesan kepada teman dan keluarga sahabat masa kecilnya agar tidak larut dalam penyesalan terhadap keadaan yang dihadapi saat ini. Ia mengajak mereka untuk terus berusaha memperbaiki masa depan, terutama melalui pendidikan.


"Kepintaran, kecerdasan yang diasah melalui pendidikan, adalah modal yang sangat besar untuk merubah nasib menjadi lebih baik," pesan Sofyan Tan.


Sofyan Tan kemudian menceritakan latar belakang kehidupannya yang juga dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ia mengatakan ayahnya dahulu bekerja sebagai tukang jahit. 


Keluarganya juga tinggal di rumah yang berlantaikan tanah, berdinding tepas dan beratap rumbia.

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah pada keadaan. 


Dengan kegigihan, semangat pantang menyerah dan ketekunan dalam belajar, Sofyan Tan kemudian mampu melanjutkan perjalanan hidup hingga mendirikan sekolah dan menjadi anggota DPR RI.


Pengalaman tersebut pula yang membuat Sofyan Tan memiliki perhatian besar terhadap akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.


Ia bertekad agar anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi, tetapi mempunyai kemauan keras, rajin dan jujur, tetap mendapatkan kesempatan untuk mengejar cita-cita melalui pendidikan.


Sebelum berbagi 67 karung beras di halaman Universitas Satya Terra Bhinneka, Sofyan Tan juga membagikan beras kepada masyarakat di kawasan Tanjung Gusta, Kabupaten Deli Serdang.


Perayaan ulang tahun ke-67 tersebut sekaligus menjadi momen bagi Sofyan Tan untuk kembali menyapa lingkungan masa kecilnya, berbagi dengan sahabat lama yang masih berjuang mencari penghidupan, serta menyampaikan kembali pesan tentang pentingnya pendidikan sebagai bekal mengubah masa depan. (rel/don)

Dinkes Sumut Deteksi 27 Kasus Super Flu, Terbanyak di Puskesmas Teladan dan RS Amri Tambunan

Jumat, September 25, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Dinas Kesehatan Sumatera Utara mencatat 27 kasus influenza A (super flu) berdasarkan pemeriksaan melalui dua sentinel surveilans Influenza Like Illness (ILI) di Sumatera Utara.


Kasus tersebut terdeteksi dari dua lokasi pemeriksaan, yakni Puskesmas Teladan untuk wilayah Kota Medan dan Rumah Sakit Amri Tambunan untuk wilayah Kabupaten Deli Serdang.


Kepala Dinas Kesehatan Sumut Faisal Hasrimy melalui Kasie P2PM (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular), dr Nora Nasution, mengatakan jumlah kasus yang terdeteksi melalui dua sentinel tersebut mengalami peningkatan pada Agustus hingga September.


“Influenza A sampai saat ini sudah ada 27 kasus. Itu pun kita dapatkan dari data Sentinel ILI,” ujar Nora.


Menurut dia, dari 27 kasus tersebut, tiga kasus ditemukan pada Agustus, sedangkan pada September jumlahnya meningkat menjadi 18 kasus berdasarkan data yang telah diperoleh dari pemeriksaan sentinel.


Nora menjelaskan, cakupan pemeriksaan ILI tersebut belum menggambarkan seluruh kasus influenza yang ada di Sumatera Utara. Hal itu karena pemeriksaan melalui sistem sentinel masih dilakukan pada lokasi tertentu dengan keterbatasan anggaran dan logistik.


“Di Provinsi Sumatera Utara itu ada dua site-nya. Di Puskesmas Keladan dan satu lagi di Rumah Sakit Amri Tambunan. Jadi 27 kasus ini kita dapat dari situ, dari dua site-nya,” katanya.


Ia mengatakan, masyarakat yang diperiksa melalui dua fasilitas tersebut pada dasarnya berasal dari wilayah sekitar lokasi site sentinel. Puskesmas Teladan menjadi salah satu lokasi pemeriksaan untuk masyarakat Kota Medan, sedangkan Rumah Sakit Amri Tambunan melayani pemeriksaan untuk masyarakat di wilayah Deli Serdang.


Nora menegaskan, istilah suspek influenza tidak dapat disamakan dengan kasus influenza A yang sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan. Orang yang mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek atau batuk kering dapat masuk kategori suspek, sedangkan 27 kasus yang disebutkan merupakan hasil pemeriksaan yang menunjukkan influenza A.


“Kalau suspek itu artinya semua orang yang dengan gejala, demam, batuk, pilek, batuk kering. Itu suspek semuanya disebutkan. Tapi kalau kalian mau cari yang influenza A itu cuma 27 orang,” ujarnya.


Nora mengatakan gejala influenza dapat menyerupai COVID-19 karena sama-sama dapat menimbulkan demam dan gangguan saluran pernapasan. Namun, tingkat keparahan gejala dapat berbeda pada masing-masing penyakit maupun pasien.


Menurut dia, COVID-19 dapat menimbulkan gangguan pernapasan yang lebih berat dan menyerang bagian paru-paru. Sementara influenza musiman pada umumnya dapat sembuh dengan sendirinya, terutama apabila daya tahan tubuh seseorang dalam kondisi baik.


“Semua gejala influenza itu semuanya mirip pasti sama COVID. Tapi lihat tingkat keparahannya,” katanya.


Ia menuturkan, influenza musiman merupakan penyakit yang dapat muncul setiap tahun dan dipengaruhi berbagai kondisi, termasuk perubahan cuaca. Kondisi panas dan hujan yang bergantian dinilai dapat mendukung meningkatnya infeksi saluran pernapasan.


Meski demikian, Nora meminta masyarakat tidak panik. Kewaspadaan tetap diperlukan untuk melihat apakah terdapat peningkatan kasus yang signifikan.


Ia juga menyebut kelompok yang lebih rentan mengalami influenza antara lain anak-anak, terutama balita, lansia dan ibu hamil. Berdasarkan data yang dimiliki Dinkes Sumut saat ini, kasus yang terdeteksi melalui pemeriksaan ILI lebih banyak ditemukan pada kelompok anak-anak dan lansia.


Nora mengatakan pasien yang menjalani pemeriksaan di site ILI tersebut merupakan pasien yang telah menunjukkan gejala sehingga membutuhkan pemeriksaan dan penanganan.


Dinkes Sumut menyatakan belum menerima laporan adanya kematian akibat kasus influenza A yang terdeteksi tersebut.


“Tidak sampai ada orang yang dilaporkan meninggal dunia. Tidak ada,” ujar Nora.


Ia mengatakan, influenza musiman pada kondisi tertentu dapat sembuh tanpa pengobatan khusus karena sangat dipengaruhi daya tahan tubuh. Namun, kondisi pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid dapat memperberat infeksi yang dialami.


Pada kelompok lansia, misalnya, keberadaan penyakit seperti diabetes, penyakit jantung atau penyakit lainnya dapat menjadi faktor yang memperberat kondisi ketika mengalami infeksi influenza.


Karena itu, masyarakat tetap diminta menjaga kondisi tubuh, antara lain dengan mencukupi kebutuhan cairan dan mengonsumsi makanan bergizi. Apabila mengalami demam atau gejala lainnya, pengobatan dilakukan sesuai kondisi pasien dan anjuran tenaga kesehatan.


Perhatian terhadap influenza, menurut Nora, tidak semata-mata disebabkan oleh meningkatnya kasus yang ditemukan saat ini. Kementerian Kesehatan juga meminta daerah meningkatkan kewaspadaan dan deteksi terhadap berbagai virus influenza.


Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui perkembangan berbagai tipe influenza sehingga apabila terdapat virus yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa atau pandemi dapat dideteksi lebih awal.


“Kami diminta sama Kementerian Kesehatan untuk mewaspadai peningkatan kasus terhadap yang namanya influenza-influenza ini, virus influenza secara keseluruhan,” katanya.


Nora menyebut pengalaman pandemi COVID-19 menjadi salah satu pelajaran agar sistem surveilans penyakit pernapasan tidak kembali lengah. Karena itu, pemeriksaan melalui jaringan sentinel terus dimanfaatkan untuk mengetahui jenis influenza yang beredar.


“Pelajaran dari COVID-19 itu, jangan sampai kita kecolongan lagi,” ujarnya.


Melalui dua site sentinel yang ada di Sumut, pemeriksaan dapat membantu menentukan apakah virus yang ditemukan termasuk influenza A atau influenza B. Pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui subtipe tertentu dilakukan melalui pemeriksaan dan pengiriman spesimen ke Jakarta karena membutuhkan jenis reagen dan fasilitas pemeriksaan yang berbeda.


Untuk mencegah penularan, Nora mengimbau masyarakat yang sedang sakit menggunakan masker dan membatasi kontak dengan orang lain selama masa infeksi.


Ia juga meminta masyarakat membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga asupan makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan serta menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat dan olahraga teratur.


“Kalau ada orang yang sakit, itu jangan didekatin lah dulu selama masa infeksi dia. Jadi paling tidak masyarakat yang sakit ini, dia harus isolasi dulu,” katanya.


Selain langkah tersebut, vaksinasi influenza juga dapat menjadi salah satu pilihan pencegahan. Nora mengatakan vaksin influenza dapat diperoleh di klinik maupun rumah sakit yang menyediakan layanan vaksinasi.


Menurut dia, vaksin influenza diberikan secara berkala dan perlindungannya perlu diperbarui setiap tahun. Terdapat vaksin yang mencakup tiga maupun empat strain influenza.


Nora menjelaskan, virus influenza memiliki berbagai jenis, termasuk influenza A yang dapat menginfeksi manusia maupun hewan, sedangkan influenza B disebutnya menginfeksi manusia.


Ia menambahkan, masyarakat tidak perlu menunggu akan melakukan perjalanan ibadah seperti haji atau umrah untuk mendapatkan vaksin influenza. Vaksinasi dapat dilakukan sebagai bagian dari upaya perlindungan terhadap infeksi influenza, sesuai kebutuhan dan layanan kesehatan yang tersedia. (don)

Rico Waas Tegaskan Puskesmas Tuntungan Harus Rampung Tepat Waktu

Kamis, September 24, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Walikota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan pembangunan Puskesmas Tuntungan di Jalan Bunga Melati, Kelurahan Kemenangan Tani, harus dikerjakan tepat waktu dan diikuti peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.


Penegasan itu disampaikan Rico Waas saat meninjau langsung progres pembangunan Puskesmas Tuntungan, Kamis (24/9/2026). Dalam peninjauan tersebut, Rico ingin memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai target yang telah ditetapkan.


Saat tiba di lokasi, Rico Waas mendengarkan penjelasan Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (Perkimcikataru) Kota Medan Jhon Ester Lase serta penanggung jawab pekerjaan terkait perkembangan pembangunan puskesmas tersebut. Turut hadir Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan Surya Syahputra.


Rico Waas meminta proses pembangunan tidak mengalami keterlambatan. Ia menegaskan, pekerjaan awal berupa pembangunan pondasi ditargetkan dapat diselesaikan dalam waktu tiga minggu.


“Harus tepat waktu. Pengerjaan awal pondasi dalam tiga minggu harus selesai,” tegas Rico Waas 


Menurut Rico Waas, pembangunan fasilitas kesehatan tidak boleh hanya berorientasi pada berdirinya bangunan baru. Lebih dari itu, kehadiran gedung puskesmas harus memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat.


“Pelayanan puskesmas harus lebih bagus. Jangan sudah dibangun, tetapi pelayanan tidak meningkat,” Jelas Rico Waas 


Rico Waas mengatakan, pembangunan dan revitalisasi fasilitas kesehatan merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Medan dalam memperkuat pelayanan publik, khususnya di bidang kesehatan. Infrastruktur yang memadai harus berjalan beriringan dengan pelayanan medis yang profesional, cepat, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.


Puskesmas Tuntungan menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang mendapat perhatian Pemko Medan. Pembangunan ini merupakan bagian dari program pembangunan kembali tiga puskesmas serta revitalisasi 28 fasilitas kesehatan di Kota Medan.


Melalui pembangunan tersebut, Pemko Medan tidak hanya ingin menghadirkan fasilitas kesehatan dengan kondisi fisik yang lebih baik, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan yang semakin layak dan berkualitas.


Karena itu, Rico meminta seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan Puskesmas Tuntungan bekerja sesuai target dan menjaga kualitas pekerjaan sejak tahap awal hingga selesai.


Bagi Rico Waas pembangunan gedung merupakan bagian dari proses. Target akhirnya adalah menghadirkan fasilitas kesehatan yang benar-benar memberikan manfaat bagi warga.


Sementara itu Kepala Dinas Perkimcikataru Kota Medan, Jhon Ester Lase, menjelaskan bahwa Puskesmas Medan Tuntungan dibangun setinggi dua lantai guna memaksimalkan keterbatasan lahan yang ada. Langkah peningkatan struktur bangunan ini dilakukan untuk memperluas kapasitas ruangan agar pelayanan medis kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal.


"Rencana kita bangun dua lantai karena lahannya terbatas, jadi kita tingkatkan agar kapasitas ruangan bertambah. Kita targetkan minggu ketiga Desember sudah selesai. Bagaimanapun kondisinya, walau cuaca hujan nanti, kita tetap totalitas agar akhir tahun bisa kita selesaikan demi pelayanan masyarakat," ujar Jhon Ester Lase saat meninjau progres pembangunan.


Menurut Jhon  Lase, gedung baru Puskesmas Medan Tuntungan ini nantinya akan dilengkapi dengan sekitar 30 ruangan multifungsi. Fasilitas pelayanan yang disiapkan meliputi Ruang Rawat Inap, Unit Gawat Darurat (UGD), Poliklinik, Laboratorium, hingga Ruang Farmasi.


Jhon Ester Lase memaparkan, Puskesmas Medan Tuntungan merupakan satu dari tiga puskesmas di Kota Medan yang dibangun total dari nol, selain Puskesmas Rengas Pulau (Marelan) dan Puskesmas Glugur Darat (Medan Timur). Ia pun tidak menampik bahwa pengerjaan di Puskesmas Medan Tuntungan sempat mengalami kendala teknis sehingga sedikit terlambat dibandingkan proyek puskesmas lainnya.


"Puskesmas Tuntungan ini memang prosesnya agak lambat dibanding Rengas Pulau dan Glugur Darat karena kemarin sempat ada proses tender ulang. Namun saat ini pengerjaan terus dikejar. Kami optimis dan berkomitmen proyek ini wajib selesai tepat waktu di akhir tahun demi menjamin kenyamanan dan akses pelayanan kesehatan warga," pungkasnya. (rel/don)

Tidak Ada Maling Tipe "Survival Sesuap Nasi": Sindikat Pencuri Sawit Ancam Petani, Pekerja, dan Iklim Usaha Perkebunan

Kamis, September 24, 2026

Foto Ist : Pekerja sedang memuat TBS ke atas truk

SUMATERAUTARA (patimpus.com) - Maraknya aksi pencurian Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di berbagai daerah perkebunan kini memicu keresahan mendalam.


Di tengah narasi yang kerap dibingkai sebagai pencurian "demi sesuap nasi" untuk bertahan hidup, fakta di lapangan justru membeberkan realitas berbeda: aksi kejahatan ini digerakkan oleh sindikat terorganisir dengan motif ekonomi ilegal yang merugikan banyak pihak.   


Berdasarkan potret penindakan di berbagai wilayah operasional, para pelaku umumnya masih berusia muda dan sehat, bergerak bergerombol, menggunakan penutup wajah, hingga bertindak agresif serta bersenjata saat berhadapan dengan petugas pengamanan maupun pekerja di kebun.   


Ancaman Nyata Bagi Nyawa Pekerja dan Jeritan Petani


Bagi para pekerja di garis depan, pencurian komoditas industri ini bukan sekadar hilangnya buah sawit, melainkan ancaman terhadap keselamatan fisik. Ketua Serikat Pekerja Perkebunan (SP BUN), Virman Yuswardi Manik yang akrab disapa Jayus, mengungkapkan realitas pahit yang kerap dihadapi para penjaga kebun dan pemanen di lapangan.


"Kami ini bekerja secara halal untuk menafkahi keluarga. Namun di lapangan, satpam dan pekerja seringkali harus bertaruh nyawa menghadapi sindikat pencuri yang beringas dan main fisik. Yang dihadapi bukanlah orang kelaparan, melainkan oknum-oknum berbadan sehat yang bertindak agresif. Penegakan hukum yang tegas mutlak diperlukan agar ada efek jera," ujar Jayus, Kamis (24/09/2026).   


Jayus juga menyoroti kalkulasi ekonomi dari hasil pencurian yang kerap disembunyikan di balik dalih belas kasihan. Dalam sejumlah kasus penindakan, barang bukti yang diamankan rata-rata mencapai 10 tandan atau sekitar 160 kilogram TBS dengan nilai ekonomi mencapai ratusan ribu rupiah dalam sekali angkut. Jika aksi serupa dilakukan berulang, tentu persoalannya bukan lagi sekadar bertahan hidup.   


Sebagai ilustrasi, nilai sekitar Rp700 ribu apabila terjadi sekali setiap hari setara dengan perolehan sekitar Rp4,9 juta dalam seminggu atau menembus angka Rp21 juta dalam 30 hari. Besarnya insentif ekonomi inilah yang membuktikan bahwa aktivitas tersebut merupakan kejahatan komoditas terorganisir.   


Ketakutan yang sama turut mencengkeram nyali para petani kelapa sawit swadaya. Sularno, salah seorang perwakilan petani rakyat, merasa posisinya sangat terancam jika penegakan hukum terhadap para pelaku kejahatan komoditas ini melemah.


"Kami para petani ini merasa senasib dengan kebun perusahaan. Jujur saja kami was-was luar biasa. Logikanya begini, kalau kebun perusahaan yang besar, dipagar, dan dijaga ketat oleh petugas saja berani mereka jarah terang-terangan, apalagi kebun kami masyarakat kecil yang lahannya sempit dan terbuka? Habis kebun kami disikat mereka. Kami sangat bergantung pada ketegasan aparat penegak hukum. Sikat habis pelakunya, biar kami petani kecil bisa bertani dan tidur tenang," keluh Sularno.   


Photo Istimewa : Pekerja mengantar TBS ke pabrik kelapa sawit


Dalih "Sesuap Nasi" Jangan Sampai Mengecoh Penegakan Hukum


Menghadapi fenomena oknum pelaku yang sering berlindung di balik status sosial saat tertangkap, tokoh masyarakat setempat, H. Ahmad Ramli, meminta publik lebih kritis. Ia mendorong aparat agar tidak ragu menindak pelaku kejahatan yang memanipulasi simpati publik.


"Kadang kita lihat faktanya sering diputarbalikkan. Pelaku ini cari simpati, alasannya mencuri karena lapar atau demi sesuap nasi. Nanti ujung-ujungnya aparat kepolisian yang disalahkan, dibilang hukum cuma tajam ke orang kecil. Padahal kalau dilihat, orangnya sehat-sehat, masih kuat kerja keras yang halal. Apalagi yang dicuri itu sawit, barang yang harus ditimbang dan dijual lagi ke penadah buat dapat duit, bukan pisang yang bisa langsung dimakan," papar H. Ahmad Ramli.   


Ia menegaskan bahwa kelonggaran hukum dan dalih berdamai justru akan merusak tatanan keamanan daerah. "Alasan minta keadilan restoratif itu jangan sampai dipakai jadi tameng buat melindungi sindikat maling seperti ini. Penindakan tegas kepolisian justru bertujuan baik, yakni melindungi rakyat yang benar—seperti pekerja dan petani kecil—dari gangguan keamanan yang lebih besar. Kami masyarakat luas mendukung penuh langkah polisi menegakkan aturan," pungkasnya.   


Sorotan senada juga disampaikan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan bahwa aksi penjarahan sawit di berbagai daerah kini menunjukkan pola terstruktur yang melibatkan kelompok dengan keberanian luar biasa dan harus segera ditindak.   


"Seperti salah satu penjarahan yang terjadi, itu luar biasa. Satu hari bisa puluhan ton yang keluar dari kebun, dan mereka terang-terangan menjarah. Ini menunjukkan keberanian kelompok terstruktur yang harus segera ditindak," urai Eddy.   


Komitmen Bersama: Lindungi Pekerja dan Putus Rantai Ilegal


Melihat masifnya jaringan kejahatan ini, berbagai elemen meminta agar penanganan hukum tidak hanya berhenti pada pelaku lapangan saja. Jaringan penampung dan pihak yang menikmati aliran dana ilegal tersebut harus diusut tuntas.


TBS baru bernilai setelah ditimbang, dihargai, dan dijual melalui rantai transaksi tertentu. Oleh karena itu, memutus mata rantai penampung dan menegakkan hukum secara tegas tanpa kompromi menjadi harga mati demi melindungi para petani, pemanen, dan pekerja yang bekerja secara jujur dari ancaman sindikat ilegal. (don)

Ekobis

Pendidikan

Hukum

Kesehatan

Komunitas

Jajanan

Peristiwa

Tradisi