‎Sofyan Tan Sebut Fotografi Sebagai Arsip Visual Dan Cermin Identitas Bangsa Serta Media Kritik Sosial

Kamis, September 24, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) - Diikuti oleh fotografer dan jurnalis foto di Kota Medan, Kementerian Kebudayaan bersama Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan berkolaborasi dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan menggelar Semarak Budaya yang mengangkat tema 'Dalam Satu Bingkai Kebhinekaan, Ketika Fotografi Bercerita Tentang Indonesia' di Aula Gedung Anjungan Melayu, Jalan Setiabudi, Tanjung Rejo, Medan, Rabu (23/9/2026).

‎Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, menyebut fotografi memiliki peran penting dalam merekam keberagaman budaya sekaligus menjadi arsip visual sebagai cermin identitas bangsa.

‎Sofyan Tan mengatakan lagi, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sambung Sofyan Tan. Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa dan hingga 729 bahasa daerah.

‎Sofyan Tan menjelaskan lagi, Keberagaman itu tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai pakaian adat, tradisi, seni hingga kuliner. Karena itu, seluruh kekayaan tersebut perlu didokumentasikan agar menjadi arsip yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

‎"Fotografi adalah arsip visual kebudayaan yang bisa merekam seluruh aktivitas kehidupan tradisi. Ia bukan sekadar ingatan, melainkan wujud nyata yang dapat merekam adat istiadat, busana, hingga gerak tari daerah,” ungkap Sofyan Tan.

‎Selain sebagai rekam jejak sejarah, sambungnya lagi. Fotografi menurutnya memiliki fungsi sebagai cermin pembentuk identitas, sarana pendidikan dan diplomasi budaya, serta media kritik sosial.

‎Ia mencontohkan, sebuah foto dapat menyampaikan pesan mengenai nilai kebersamaan dan pendidikan moral tanpa harus menggunakan banyak kata. Fotografi juga dapat merekam berbagai persoalan sosial, termasuk bencana dan isu keadilan sosial.

‎Dari sisi kulinernya, Sofyan Tan membandingkan kekayaan kuliner Indonesia dengan negara lain seperti Thailand yang mengandalkan satu hidangan khas seperti Tom Yum.

‎Untuk itu, menurutnya kekayaan dari beragamnya budaya nusantara dari kuliner Indonesia yang memiliki ciri khas unik seperti nasi goreng dan ratusan jenis soto lainnya ini perlu direkam dalam wujud nyata sebagai arsip visual.

‎"Fotografi adalah arsip visual kebudayaan yang bisa merekam seluruh aktivitas kehidupan tradisi. Ia bukan sekadar ingatan, melainkan wujud nyata yang dapat merekam adat istiadat, busana, hingga gerak tari daerah," ujar Legislator dari Dapil Sumut 1 itu.

‎Sofyan Tan menambahkan lagi. Sebuah foto dapat menyampaikan pesan pendidikan moral dan nilai kebersamaan antar-suku tanpa perlu banyak kata dan bahkan melalui bidikan momen bencana atau keadilan sosial, fotografi mampu menjadi sarana kritik konstruktif.

‎Sofyan Tan juga mengingatkan pelaku fotografi agar menghadapi tantangan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ia pun menyebutkan sekitar 83 persen fotografer kini telah memanfaatkan AI dalam berkarya.

‎Perkembangan AI tidak hanya berdampak pada dunia fotografi, tetapi juga berbagai profesi lain, termasuk dokter dan akademisi, terutama terkait persoalan etika dan plagiarisme.

‎Berkaitan hal itu, Sofyan Tan meminta fotografer tetap mempertahankan keaslian dan sentuhan manusia dalam setiap karya.

‎“Teknologi AI tidak memiliki perasaan, sedangkan manusia memilikinya. Saat seorang fotografer membidik objek, seluruh perasaannya mengalir ke sana. Walaupun bidikan foto hanya berlangsung satu detik, ia mampu meninggalkan kesan sepanjang zaman dan bahkan mempengaruhi kebijakan satu negara,” tegas Sofyan Tan.

‎Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PFI Medan Risky Cahyadi, fotografer senior Dr Irsan Mulyadi M.I.Kom, Tenaga Ahli DPR RI Finche Kosmanto, Lisnawati Ginting dan Padapotan Tamba.

‎Menanggapi hal tersebut, Fotografer Senior Dr Irsan Mulyadi M.I.Kom yang menjadi narasumber dalam acara tersebut memetakan kembali fungsi fotografi, baik jurnalistik maupun dokumenter dan sekaligus memetakan peran AI semata sebagai alat bantu (tool). 

‎Irsan juga menyoroti adaptasi digital dengan membagi masyarakat ke dalam kelompok digital native dan digital immigrant. Ia menegaskan bahwa digital immigrant harus mau beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan prosedur digitalisasi saat ini, seperti penggunaan transaksi QRIS dalam kehidupan sehari-hari.

‎Irsan mengatakan bahwa percepatan ilmu dan teknologi saat ini telah melampaui komputerisasi biasa dan menyentuh ranah kuantum.

‎"Percepatan ilmu hari ini sudah sampai pada capaian kuantum, tidak hanya komputerisasi. Di sinilah pentingnya memetakan AI sebagai alat bantu.

‎Sementara itu, Ketua PFI Medan Risky Cahyadi mengapresiasi dukungan dari para narasumber dan berharap kegiatan ini dapat terus memotivasi para pewarta foto untuk tetap konsisten menjalankan peran sebagai saksi fakta yang jujur, beretika, serta berwawasan global demi melestarikan budaya bangsa. (Soni)

» Thanks for reading: ‎Sofyan Tan Sebut Fotografi Sebagai Arsip Visual Dan Cermin Identitas Bangsa Serta Media Kritik Sosial

Ekobis

Pendidikan

Hukum

Kesehatan

Komunitas

Jajanan

Peristiwa