![]() |
JAKARTA (patimpus.com) - Program TFCA - Sumatera Yayasan KEHATI, Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), dan Coalition for Sustainable Livelihoods (CSL), berkolaborasi dengan LSPR Institute of Communication and Business, menyelenggarakan "Seminar Cita Rasa Konservasi Meracik Kopi, Profit, dan Kelestarian Hutan Episode ke-5: Sektor hilir dan Impact investment” di Auditorium Prof. Djajusman LSPR Jakarta secara hybrid.
Seminar ini bertujuan untuk membedah ekosistem bisnis konservasi dari hulu hingga hilir serta mempertemukan perspektif pelaku bisnis, impact investor, dan mitra pembangunan dalam mendukung inovasi bisnis berbasis alam.
Komoditas berbasis alam seperti kopi, kakao, rempah-rempah, dan hasil hutan bukan kayu memegang peran krusial bagi perekonomian masyarakat sekaligus pemeliharaan ekosistem. Namun di sisi lain, sektor penggunaan lahan secara historis menyumbang emisi yang signifikan.
Oleh karena itu, diskusi ini membahas tantangan serta solusi untuk menghubungkan model bisnis komoditas agar mampu mendongkrak kesejahteraan petani melalui pendekatan impact investment (investasi berdampak) dan hilirisasi yang adil (fair trade).
Faris Nurfauzi Nurmianto, Head of Business Development Pandawa Agri Indonesia, membagikan pendekatan ekosistem hulu hingga hilir, Pandawa Agri Indonesia mengintegrasikan inovasi teknologi, pendampingan petani, pemantauan berbasis data, serta skema insentif lingkungan melalui Agro Environmental Schemes (AES).
Model ini mendorong adopsi praktik pertanian ramah lingkungan yang terukur dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
“Hingga saat ini, program Pandawa Agri telah memberikan dampak nyata bagi lebih dari 2.700 petani, mengurangi lebih dari 5,1 juta liter pestisida, menghindari emisi sebesar 3,8 juta ton CO₂e, serta melindungi 75.600 pekerja penyemprotan dari paparan bahan kimia berlebih,” ujar Faris.
Dari perspektif investor, Fitrian Ardiansyah, Impact Director ACLF–ADM Capital, menekankan bahwa pengembangan komoditas berbasis alam membutuhkan lebih dari sekadar akses pendanaan.
Ia menguraikan sejumlah aspek yang menjadi pertimbangan investor, mulai dari kondisi pasar, kesiapan badan usaha, kekuatan financial model, hingga pilihan skema pembiayaan inovatif.
Menurutnya, alternatif pendanaan seperti shareholder dan angel investor juga dapat menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat pertumbuhan bisnis.
Lebih jauh, Fitrian mendorong penguatan kolaborasi antara pelaku usaha, investor, dan pemangku kepentingan untuk tidak hanya menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang terukur, tetapi juga membangun model bisnis yang semakin solid dan investment-ready, sehingga mampu membuka akses terhadap pembiayaan yang lebih berkelanjutan dan investasi dalam skala yang lebih besar.
Riki Frindos, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, menekankan pentingnya menggeser paradigma pendanaan konservasi, dari hibah sebagai pembiayaan kegiatan menjadi modal katalitik untuk membangun kesiapan menuju investasi.
Menurutnya, masih terdapat readiness gap antara keberhasilan program konservasi di tingkat tapak dan persyaratan investor. Karena itu, hibah perlu diarahkan untuk memperkuat tata kelola, kapasitas kelembagaan, pengelolaan keuangan, traceability, dan validasi pasar agar komunitas, koperasi, dan pelaku usaha berbasis konservasi semakin impact-ready dan mampu mengakses pembiayaan berkelanjutan.
“Kami terbuka untuk berbagai kerja sama, termasuk riset dan inovasi, untuk mempersiapkan badan usaha maupun organisasi penerima manfaat agar semakin siap dan mandiri,” ujar Riki.
Dari pengalaman dan perspektif NGO dan penggiat konservasi, Fitri Hasibuan selaku Vice President Program, Konservasi Indonesia mengungkapkan bahwa upaya konservasi secara lanskap tidak cukup jika hanya dengan mengandalkan hibah.
Dibutuhkan diversifikasi dan sistem pembiayaan lain seperti impact investment untuk menjamin keberlanjutan dan ketersediaan dana.
“Dalam memandang upaya konservasi saat ini, cara berpikirnya adalah bagaimana melibatkan investasi yang dapat membiayai dan menjamin upaya-upaya konservasi agar berkelanjutan. Konservasi tanpa dana hanyalah menjadi conversation. Setiap kegiatan konservasi membutuhkan pembiayaan seperti sistem patroli, perlindungan satwa dan alam, dan sebagainya,” ujar Fitri.
Pelaku industri di ekosistem juga diharapkan dapat turut terlibat dalam upaya ini karena konservasi tidak hanya menghasilkan dampak lingkungan, tetapi juga menciptakan ekonomi lokal yang berkelanjutan dan siap berkembang melalui investasi berdampak.
Seminar ini membawa diskusi yang konstruktif bahwa impact investment dapat menjadi jembatan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, dengan menempatkan profit, people, dan planet dalam satu kerangka investasi.
Ditengah menyempitnya akses hibah seiring dengan posisi Indonesia sebagai middle-income country, diperlukan model pembiayaan yang lebih inovatif dan terintegrasi, tidak terbatas pada sektor karbon atau komoditas tertentu.
Perluasan akses terhadap pendanaan, pasar, dan kemitraan yang lebih inklusif diharapkan dapat memperkuat pelaku usaha dan petani di tingkat tapak, sekaligus mendorong model bisnis yang mampu tumbuh secara ekonomi tanpa mengorbankan hutan dan ekosistem. (don)
» Thanks for reading: Mengupas Sektor Hilir dan Impact Investment untuk Komoditas Berbasis Alam