Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

‎Tiba Di Tanah Air, Jemaah Haji Kloter 8 Menangis Haru Dijemput Keluarga

Kamis, Juni 11, 2026

‎MEDAN (patimpus.com) - Rasa haru penuh syukur terlihat dari wajah jama'ah haji Kloter 8 yang telah selesai menunaikan ibadah haji di tanah suci dan mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Kualanamu Deli Serdang (KNIA) pada Rabu (10/6/2026) pukul 16.30 WIB.

‎Dari Bandara Internasional Kualanamu Deli Serdang, sebanyak 359 jamaah dan petugas haji menaiki Pesawat Garuda Indonesia GIA 3408 tiba di Asrama Haji Debarkasi Medan pada pukul 19.05 WIB, disambut langsung oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Haji (Kemenhaj) Sumatera Utara (Sumut), Zulkifli Sitorus, Anggota DPRD Sumut, Sugiatik, Kakan Kemenhaj Kota Medan Bambang Irawan Hutasuhut dan Kakan Kemenhaj Sergai, Hasan Basri.

‎Rombongan jamaah haji Kloter 8 terdiri dari 191 jamaah asal Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), 160 jamaah Kota Medan, dan 2 jamaah asal Kabupaten Asahan bersama 6 petugas haji daerah dan pusat.

‎Informasi yang diterima awak media dari Humas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kanwil Kemenhaj Sumut, terdapat seorang jamaah haji Tanazul Keluar (Pemulangan lebih cepat, tidak ikut rombongan Kloter 8 karena sakit dan dirawat di RS. Arab Saudi-red) atas nama Basro Nasution nomor manifes 324 berangkat dari Kloter 5 nomor manifes 146. 

‎Selain Tanazul Keluar, terdapat juga dua jamaah haji Tanazul Masuk (Jamaah Haji dari Kloter lain yang diizinkan terbang setelah masa perawatan selesai-red) dari Kloter 11 dan 16 ikut rombongan Kloter 8 atas nama Lukman Nurhakim dan Zulkifli Lubis.

‎Sementara itu, dikabarkan juga terdapat satu jamaah haji di kloter 8 wafat di tanah suci atas nama Kasiani Sigito Tarmidi asal Kota Medan. Almarhumah wafat di usia 69 tahun pada 10 Mei 2026 pukul 00:44 di RS King Abdul Aziz Mekkah dimakamkan di Saraya, Suhada Al Haram.

‎Penyambutan jamaah haji Kloter 8 ini ditandai dengan pengalungan kain selempang oleh anggota Komisi A DPRD Sumut, Sugiatik, kepada ketua dan dokter kloter.

‎Kepala Kanwil Kemenhaj Sumut, Zulkifli Sitorus dalam sambutannya berharap jamaah haji yang tiba di tanah air dapat menjadi teladan di tengah-tengah masyarakat. 

‎"Jadilah teladan yang baik. Semoga bapak ibu meraih predikat haji mabrur. Amin," tuturnya.

‎Salah satu jamaah haji Kloter 8 asal Kota Medan, Haidil Syahputra mengungkapkan rasa syukurnya atas kepulangannya dengan selamat ke tanah air usai menunaikan ibadah haji.

‎Saat dijemput keluarga, Haidil Syahputra Owner Putra Optikal di Banda Aceh menggantikan sang ayah menemani ibundanya menunaikan ibadah haji ini, melepaskan tangis haru penuh kerinduannya sembari bersyukur.

‎"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Bisa kembali bertemu keluarga dengan sehat dan selamat usai menunaikan ibadah haji. Saya menggantikan ayah yang wafat beberapa tahun kemaren, dan menemani mamak menjalankan ibadah haji tahun ini, saya dan mamak sangat bersyukur kami bisa menunaikan ibadah haji dengan lancar dan kembali ke Medan dengan sehat dan selamat," ungkap syukur Haidil Syahputra didampingi ibunda dan keluarganya.

‎Pantauan awak media, suasana haru penuh rindu mewarnai penjemputan para jamaah haji oleh keluarga. Diluar Aula Madinatul Hujjaj, terlihat kepulangan jamaah haji Kloter 8 asal Kota Medan dijemput oleh keluarga masing-masing dengan kendaraan pribadi, sedangkan jamaah haji asal Sergai disiapkan bus dari pemerintah daerah. (Soni)

‎Kepulangan Kloter 02 Debarkasi Medan, 3 Jamaah Haji Asal Sumut Telah Wafat Di Tanah Suci

Kamis, Juni 04, 2026

‎MEDAN (patimpus.com) - Di tengah kesibukan aktivitas kepulangan (Debarkasi) jama'ah haji di seluruh dunia, Wakil Gubernur Sumatera Utara, H Surya BSc, mewakili Gubernur Sumatera Utara resmi menyambut sebanyak 358 jamaah dan petugas haji Kloter 02 Debarkasi Medan di Aula Madinatul Hujjaj Asrama Haji Medan pada Rabu (03/06/2026). 

‎Kloter 02 Debarkasi Medan merupakan jamaah asal Kabupaten Langkat yang berjumlah 352 orang, terdiri dari 137 jemaah pria dan 215 jemaah wanita, didampingi enam petugas kloter, dua Petugas Haji Daerah (PHD), dan tiga petugas pusat. 

‎Dari total manifest kloter, satu jemaah wafat di Tanah Suci dan satu jemaah lainnya masih menjalani perawatan sehingga belum dapat kembali bersama rombongan.

‎Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatera Utara sekaligus Ketua PPIH Embarkasi/Debarkasi Medan Dr. H. Zulkifli Sitorus, M.A, Bupati Langkat H. Syah Afandin, S.H, Asisten I Setda Provinsi Sumatera Utara H. Basarin Yunus Tanjung, Wakil Ketua PPIH Embarkasi/Debarkasi Medan Syahril, General Manager PT Garuda Indonesia Medan Bobby Pratama Saragih, Kabag Kesra Kabupaten Langkat H. Muhammad Suhaimi, S.STP., M.AP, Sekretaris PPIH Embarkasi/Debarkasi Medan Dr. H. Torang Rambe, M.Ag, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Langkat H. Umar Saleh Maruhawa, M.Pd, Ketua LPTQ Sumut H. Mhd. Yasir Tanjung, Kabiro Kesra Setdaprov Sumut H. Abu Kosim, serta unsur PPIH dan tamu undangan lainnya.

‎Acara diawali dengan pembacaan doa oleh Tim Pembimbing Ibadah Haji sebagai ungkapan syukur atas kelancaran penyelenggaraan ibadah haji dan kepulangan jemaah ke Tanah Air.

‎Membacakan sambutan Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution, Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya, B.Sc menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh jemaah haji Kloter 02 Debarkasi Medan yang telah kembali ke Tanah Air setelah menunaikan seluruh rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.

‎“Atas nama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, saya menyampaikan Ahlan wa Sahlan, selamat datang kembali di Tanah Air kepada seluruh jemaah haji Kloter 02 Debarkasi Medan. Alhamdulillah, bapak dan ibu kembali dalam keadaan sehat dan selamat setelah menunaikan seluruh rangkaian ibadah haji,” ujarnya.

‎Surya mengatakan ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual seorang muslim yang mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, persaudaraan, dan kepatuhan kepada Allah SWT. Karena itu, pengalaman dan nilai-nilai yang diperoleh selama berada di Tanah Suci hendaknya menjadi bekal berharga untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

‎Surya mengatakan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berharap para jamaah yang telah menunaikan rukun Islam kelima dapat menjaga kemabruran haji dan menjadi teladan di tengah masyarakat.

‎Ia menegaskan bahwa masyarakat menaruh harapan besar kepada para haji dan hajjah untuk menjadi teladan dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Menurutnya, predikat haji mabrur tidak hanya diukur dari kesempurnaan pelaksanaan ibadah di Tanah Suci, tetapi juga tercermin dari perubahan sikap, perilaku, dan kontribusi positif setelah kembali ke tengah masyarakat.

‎Wagub Sumut juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam memberikan pelayanan kepada jamaah haji, mulai dari proses pemberangkatan hingga pemulangan ke Tanah Air.

‎Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatera Utara sekaligus Ketua PPIH Embarkasi/Debarkasi Medan, Zulkifli Sitorus menyampaikan rasa syukur atas kelancaran proses pemulangan jamaah haji Kloter 02 Debarkasi Medan.

‎Zulkifli mengatakan keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tidak terlepas dari sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, petugas kloter, tenaga kesehatan, hingga para petugas yang memberikan pelayanan kepada jamaah sejak keberangkatan hingga kembali ke Tanah Air.

‎"Kami mengucapkan selamat datang kembali kepada seluruh jamaah haji Kloter 02 Debarkasi Medan. Semoga seluruh amal ibadah yang telah dilaksanakan diterima Allah SWT dan bapak serta ibu memperoleh predikat haji yang mabrur," ungkapnya.

‎Ia mengajak seluruh jamaah untuk menjaga semangat ibadah dan nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama di Tanah Suci agar dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.

‎"Kemabruran haji hendaknya tercermin dalam akhlak, kepedulian sosial, serta semangat untuk terus berbuat kebaikan. Kami berharap para jemaah dapat menjadi teladan dan membawa manfaat bagi lingkungan serta masyarakat di daerah masing-masing," tambahnya.

‎Pada kesempatan tersebut, dilakukan prosesi pengalungan selempang kepada petugas kloter, ketua rombongan (Karom), dan ketua regu (Karu) sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian mereka dalam mendampingi serta melayani jemaah selama pelaksanaan ibadah haji. Pengalungan dilakukan oleh Wakil Gubernur Sumatera Utara didampingi Kakanwil Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Sumatera Utara, Asisten I Setda Provinsi Sumatera Utara, dan Bupati Langkat.

‎Selanjutnya, perwakilan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Medan menyampaikan sosialisasi terkait pemantauan kesehatan jamaah selama 21 hari setelah kepulangan dari Arab Saudi.

‎Petugas BBKK Medan menjelaskan bahwa seluruh jamaah akan berada dalam masa pemantauan kesehatan guna mengantisipasi kemungkinan munculnya gangguan kesehatan pasca-perjalanan internasional. 

‎Jamaah diimbau segera melapor ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek, muntah, atau keluhan kesehatan lainnya.

‎Selain itu, jamaah yang berada dalam kondisi sehat juga dianjurkan untuk tetap melapor kepada petugas kesehatan setempat sebagai bagian dari proses pendataan dan pemantauan kesehatan pasca-haji.

‎Usai acara penyambutan, panitia secara bertahap memanggil jemaah sesuai nomor manifes untuk proses penyerahan dokumen dan koper. Panitia juga menyediakan konsumsi bagi jemaah sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke daerah asal untuk berkumpul kembali bersama keluarga tercinta.

‎>>>3 Jamaah Sumut Wafat

‎Berdasarkan data Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Haji (Kemenhaj) Sumatera Utara (Sumut) Debarkasi Medan, terdapat kurang lebih 3 jamaah haji asal Sumut telah wafat di tanah suci karena sakit.

‎1. Kasiani Sigito Tarmidi, ID Reg. 25, jenis kelamin perempuan, usia 69 tahun dari Kloter 8 asal Kota Medan, Almarhumah wafat pada 10 Mei 2026 pukul 00:44 di RS King Abdul Aziz Mekkah dimakamkan di Saraya, Suhada Al Haram. 

‎2. Isron Baitul, ID Reg. 119, jenis kelamin laki-laki, usia 68 tahun. Jamaah haji asal Kabupaten Mandailing Natal dari Kloter 6 ini wafat pada 27 Mei 2026 pukul 18:22 di RS Saudi National Makkah dimakamkan di Saraya, Suhada Al Haram.

‎3. Nadhirah Sirajuddin Ismail, ID Reg. 139, jenis kelamin perempuan, usia 66 tahun. Jamaah haji asal Kabupaten Langkat dari Kloter 2 ini wafat pada 29 Mei 2026 pukul 12:19 di Markaz 14 Mina, dimakamkan di Syariah.

‎Sementara satu jamaah lainnya dari Kloter 2 atas nama Wagini Kasan Winangun belum dapat kembali bersama rombongan karena masih menjalani perawatan akibat sakit.

‎Kepulangan Kloter 02 Debarkasi Medan ini menandai berlanjutnya proses pemulangan jamaah haji Sumatera Utara dari Tanah Suci dengan harapan seluruh jamaah dapat membawa pulang nilai-nilai kemabruran haji untuk diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

‎Usai acara penyambutan, panitia secara bertahap memanggil jamaah sesuai nomor manifes untuk proses penyerahan dokumen dan koper. Panitia juga menyediakan konsumsi bagi jamaah sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke daerah asal untuk berkumpul kembali bersama keluarga tercinta. (Soni)

‎Catatan Bathin Perjalanan Spiritual Menuju Baitullah Jamaah Haji Asal Medan

Selasa, Juni 02, 2026

‎MEKKAH (patimpus.com) - Di tengah momentum kekhusyukan aktivitas jamaah haji dalam menjalankan rangkaian akhir spiritual ibadah haji, tertanam didalam hati sanubari rasa haru dan ungkapan syukur serta takjub atas kebesaran Allah.

‎Hal tersebut diungkapkan salah seorang jamaah haji Kloter 8 asal Medan, Aidil Syahputra, yang menemani sang ibunda tercinta menggantikan ayahnya yang telah tiada untuk menjalankan rangkaian ibadah haji pada tahun ini.

‎"Alhamdulillah… Saya sehat. Saya terharu dan sangat bersyukur bisa menemani mamak dan menggantikan ayah yang telah wafat untuk menjalankan ibadah haji tahun ini," ungkap Aidil Syahputra, Selasa (2/6/2026) malam.

‎Bagi Aidil Syahputra menunaikan ibadah haji pada tahun ini adalah yang pertama kali dan berharap bisa kembali menjalankan rukun Islam ke 5 ini pada tahun yang akan datang.

‎"Yah... Bagi mamak ini ibadah haji yang kedua kalinya, hal ini merupakan kerinduan dihati beliau melaksanakan ibadah haji dengan ayah, tapi karena ayah telah wafat, jadi ini untuk pertama kali saya menemani mamak menggantikan ayah untuk menjalankan ibadah haji," tambah Aidil Syahputra.

‎Aidil Syahputra pemilik Putra Optikal di Banda Aceh, mengaku banyak hal yang berbekas dan menambah rasa keimanan dan kecintaannya kepada Allah dan nabi selama perjalanan spiritualnya menuju baitullah.

‎"Saat ini kami lagi di kampung taip. kita tinggal menanti pelaksanaan tawaf wada' ya. Jadi karena ini kesempatan terbaik mendekatkan diri pada Allah menambah keimanan dan kecintaan pada  Allah dan nabi, kita fokus melakukan ibadah wajib dan sunnah, perbanyak zikir, sholawat, dan do'a-do'a. Dan banyak hal yang kita rasakan yang menambah takjub kita dan pengetahuan kita tentang sejarah Islam ditanah suci ini. Kita terasa dekat sama Allah dan juga nabi," kata Aidil Syahputra.

‎Informasi yang diterima awak media, jamaah haji Kloter 8 akan kembali ketanah air pada Selasa 10 Juni 2026 mendatang.

‎Rasa haru dan syukur juga diungkapkan salah satu jamaah haji Kloter 17 asal Medan, Muhammad Said Harahap. Ia bersama istri tercinta dapat berbarengan melaksanakan ibadah haji tahun ini.

‎"Alhamdulillah kami sehat bang, Alhamdulillah ya, saya sangat terharu dan bersyukur bisa berangkat haji pada tahun ini bersama istri tercinta," ungkap Said Selasa (2/6/2026).

‎Said menjelaskan lagi, keberangkatannya ke Tanah Suci bersama istri bukan karena  memiliki kelebihan secara materi, tetapi ditengah kesederhanaan sebagai staf pengajar, ia meyakini ada kekuatan besar dalam niat yang dijaga dengan istiqamah.

‎“Saya hanya staf pengajar. Tapi Allah ajari saya melalui satu keyakinan yang mantap, bahwa Niat + Istiqomah = Jalan.  Jadi kalau sudah niat, langit pun akan ikut mendoakan,” ungkap Said.

‎Sebagai ungkapan rasa syukurnya, Said mengaku memanfaatkan momentum ibadah spiritual ini untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak melakukan ibadah, i'tikaf malam, Sholat qiyamullail dan juga tawaf sunnah.

‎"Kami banyak melakukan ibadah  iqtikaf malam sholat qiyamulail dan tawaf sunah sebagai rasa syukur kami untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT," jelas Said.

‎Said mengatakan lagi, bahwa Jamaah haji semuanya sudah di Mekkah karena sudah menyelesaikan rangkaian ibadah wajib haji dan selesainya hari tasyrik.

‎Dalam rangkaian perjalanan spiritualnya menuju baitullah, Said mengaku banyak menambah rasa takjub dan keimanannya yang berbekas di hati sanubarinya atas kebesaran Allah SWT.

‎Said pun menceritakan beberapa kesan pengalamannya yang dijadikannya sebagai catatan batin dari Tanah Suci yang tidak akan terlupakan.

‎Berawal dari panggilan yang mengguncang hatinya, ketika namanya beserta istri keluar didaftar berangkat haji. ia mengaku bukan sujud syukur yang pertama kali datang kepadanya tetapi justru guncangan hati sambil berkata 'Ya Allah, pantaskah aku?'.

‎"Saya terpanggil menunaikan rukun Islam kelima. Setelah syahadat, shalat, puasa, zakat, kini haji. Tapi dada ini sesak oleh pertanyaan yang tak bisa dijawab hati  manusia : 'Diterima tidak ibadahku oleh-Mu, wahai Pencipta Alam Semesta?,” jelas Said.

‎"Bagaimana mungkin aku berani menghadap Ka’bah, meminta ampun, sementara dosa masih menempel di tubuh ini? Dosa kepada ibu bapak yang sering ku bentak diam-diam. Dosa mata yang tak terjaga dari melihat yang haram. Dosa telinga yang senang mendengar ghibah. Dosa lisan yang tajam. Dosa tangan, kaki, dan kemaluan yang kupakai tidak pada fungsinya. Aku malu. Sungguh, aku belum pantas bersujud meminta surga," ungkap Said lagi mengungkapkan guncangan hatinya.

‎Said juga menceritakan pengalaman barunya terkait perjalan Armuzna. Ia memahami bahwa 'Armuzna Sepenggal Jalan Pengemis Ampunan makhluk kepada sang khalik.

‎  

‎"Lalu dimulailah Armuzna. Perjalanan Arafah, Muzdalifah, Mina bukan sekadar pindah tenda. Ini perjalanan seorang pengemis yang memohon ampunan kepada sang khalik pencipta," jelasnya.

‎Saat di Arafah, lanjut Said lagi mengungkapkan catatan batinnya. I memahami bahwa Arafah merupakan Padang Penyesalan bagi makhluk yang selama ini penuh dosa.

‎"Bus melaju 22 km dari Makkah ke Arafah. Tapi yang terasa jauh adalah jarak antara aku dan ampunan-Nya. Sehari penuh di Padang Arafah, dibawah terik yang membakar ubun-ubun, aku hanya bisa menangis. Tidak ada tempat sembunyi dari dosa. Langit Arafah terlalu luas, terlalu jujur. Dari Dhuhur sampai Maghrib saat wukuf, lisanku kering berdoa:  'Ya Allah, kalau bukan hari ini Engkau ampuni aku, kapan lagi?' Aku menunggu Fajar dengan hati berdebar. Wukuf adalah mihrab paling sunyi sekaligus paling ramai oleh isak tangis para pendosa," terang Said.

‎Kemudian saat di Muzdalifah, lanjut Said lagi. Ia memahami bahwa Muzdalifah merupakan 'Bermalam di Atas Kerikil' dengan satu ikrar membuang kesombongan, kikir, dan malas didalam diri.

‎"Malamnya kami digiring 8 km ke Muzdalifah. Beratapkan langit, beralaskan tanah. Di sini aku mabit. Di sini aku memungut batu-batu kecil. Setiap kerikil yang masuk ke kantong adalah satu ikrar : 'Dengan ini aku akan lempari sifat sombongku, malas shalatku, kikirku'. Dingin malam Muzdalifah menusuk, tapi lebih menusuk lagi dinginnya hati yang takut tidak diampuni," ungkap Said melanjutkan.

‎Pemahaman perjalanan spiritual lainnya yang menjadi catatan batin Said berikutnya saat di Mina. Ia memahami bahwa di Mina merupakan perjalanan 3 Hari Menebus Diri.

‎ 

‎"Subuh 10 Dzulhijjah, kami jalan 6km menuju Mina. Dan di Mina, ujian sebenarnya dimulai. Selama 3 hari aku menetap. Setiap hari aku berjalan pulang-pergi ke Jamarat sejauh 12 km di bawah matahari yang seperti sejengkal dari kepala. Saat tangan ini melempar Jumrah Aqabah, aku berbisik: 'Ya Allah, ini dosa mataku.' Lemparan kedua: 'Ini dosa telingaku.' Ketiga: 'Ini lisanku'. Sampai pada kerikil ketujuh habis, aku masih merasa dosaku lebih banyak dari batu di Muzdalifah. Keringat, lecet, dan kaki melepuh jadi saksi: beginilah rasanya mengemis ampunan," ungkap haru Said menunjukkan emoji menangis.

‎Said juga menceritakan catatan batinnya, ketika tiba waktunya yang menjadi penghujung di Baitullah yakni saat Tawaf dan Sa’i.

‎"Setelah Mina melumat ego, Allah panggil kami kembali ke Makkah. Inilah penghujung wajib. Dengan kaki yang sudah gemetar, aku Tawaf Ifadah 7 putaran. Setiap langkah mengelilingi Ka’bah, aku merasa dosa-dosa itu luruh satu per satu. Tidak ada Raml, tidak ada Idhtiba’. Yang ada hanya langkah seorang hamba yang pasrah: 'Aku pulang, Ya Allah. Terima aku.' jelas Said.

‎"Lalu Sa’i. Dari Shafa ke Marwah 3,15 km. Aku ingat Siti Hajar. Kalau ia berlari untuk air bagi Ismail, aku berlari untuk air mata taubat bagi diriku. Di lampu hijau aku lari kecil, sambil merintih: “Rabbigfir warham, innaka antal a’azzul akram.” lanjut Said yang juga menambahkan emoji menangis.

‎Lalu masuk ketahap Tahallul Tsani, lanjut Said lagi. Ia memahami Tahallul Tsani sebagai kelahiran kembali dirinya dengan memangkas semua dosa yang melekat dalam jiwanya sehingga timbullah kelapangan hati dengan yakin Allah mengampuni dosa hamba-Nya.

‎"Dan akhirnya Tahallul Tsani. Gunting menyentuh rambutku. Rambut yang jatuh ke tanah seakan membawa semua dosa yang melekat di jiwa dan tubuh ini. Saat itu aku paham makna 'kembali seperti bayi yang baru dilahirkan'. Rasanya? Enteng. Lapang. Untuk pertama kali setelah puluhan tahun, aku bisa bernapas tanpa beban dosa. Bukan karena aku suci, tapi karena aku yakin Dia Maha Pengampun," ungkap Said lagi.

‎Said menambahkan lagi, haji mengajariku satu hal Allah tidak memanggil yang pantas. Allah memantaskan yang Dia panggil. 

‎Armuzna, Tawaf, Sa’i bukan tentang kuatnya kaki melangkah 40 km. Tapi tentang beraninya hati mengaku salah, lalu berjalan meminta maaf kepada Pemilik Ka’bah. 

‎"Ya Allah, jika Engkau tanya dosaku, sungguh tak terhitung. Tapi jika Engkau tanya rahmat-Mu, sungguh lebih luas dari Arafah, lebih dalam dari sumur Zamzam. Maka terima aku. Jadikan hajiku mabrur. Dan jagalah aku agar tidak kembali mengotori jiwa yang sudah Engkau sucikan. Aamiin," tutup Said sambil memanjatkan doa.

‎Seakan tahu, awak media juga tersentuh dengan perjalanan spiritualnya melalui penjelasan catatan batinnya, Said berharap pengalaman dan pemahaman catatan batinnya tersebut dapat menjadi hikmah dan pelajaran juga bagi masyarakat luas. (Soni)

‎Warga Kampung Aur Sembelih 10 Ekor Lembu, 4 Ekor Kambing

Rabu, Mei 27, 2026

‎MEDAN (patimpus.com) - Usai melaksanakan sholat Idul Adha, ratusan warga Aur Linkungan III, IV dan VIII berbondong-bondong datang ke halaman Masjid Jami' Aur untuk menyaksikan langsung proses penyembelihan hewan qurban, Rabu (27/5/2026).

‎Ratusan warga Kampung Aur terlihat antusias menyemarakkan Hari Raya Idul Adha 1447 H, dan memadati halaman depan Masjid Jami' Aur yang bertempat di Jalan Kampung Aur Lingkungan IV Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun.

‎Ketua Badan Kenaziran Masjid Jami' Aur (BKMJA), Majid menyampaikan rasa terimakasihnya dan mengapresiasi antusias warga Aur untuk menyemarakkan Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M.

‎"Alhamdulillah, kita tadi telah melaksanakan sholat Idul Adha di Masjid, dan sama seperti tahun sebelumnya, hari ini didepan halaman masjid Jami' Aur kita akan menyembelih hewan qurban. Saya salut dan mengapresiasi antusias warga Kampung Aur dan juga semangat kerjasama Panitia Qurban tahun ini," ungkap Majid kepada awak media disela-sela penyembelihan hewan qurban.

‎Majid juga menyampaikan permohonan maafnya kepada masyarakat terutama kepada peserta qurban, jika masih terdapat kekurangan dalam pelayanan dari Panitia Qurban yang dipromotori oleh BKMJA.

‎Sementara itu, Ketua Panitia Qurban BKMJA 1447 H/2026 M, Atok Ayun mengatakan masyarakat Aur setiap tahunnya mempercayakan penyembelihan hewan qurban kepada Badan Kenaziran Masjid Jami' Aur melalui Bidang Qurban.

‎Atok Ayun juga menambahkan, sebanyak kurang lebih 74 peserta qurban yang merupakan warga Aur dari Lingkungan III, IV dan VIII dan jumlah hewan qurban yang disembelih pada tahun ini sebanyak 10 ekor lembu dan 4 ekor Kambing.

‎"Hari Raya Idul Adha ini kan penuh semangat berbagi, jadi dari 10 ekor lembu dan 4 ekor kambing yang disembelih, nantinya daging hewan qurban tersebut akan kita bagikan kembali untuk beberapa bagian ke 74 peserta, setelah hak peserta qurban kita bagi, baru kita bagikan juga kepada seluruh warga Aur di Lingkungan III, IV dan VIII," kata Atok Ayun.

‎Pantauan awak media dilokasi, ratusan warga Aur antusias terlihat antusias menyaksikan langsung proses penyembelihan hewan qurban, mereka sibuk mengabadikan dalam foto dan video dan menguploadnya ke media sosial.

‎Tampak hadir juga di keramaian tersebut Kepala Lingkungan (Kepling) IV Adnan Buyung bersama personil Kepolisian yang ikut berjaga, mengawasi dan mengamankan prosesi penyembelihan hewan qurban di Kampung Aur tersebut. (Soni)

Perlindungan Jemaah Haji Khusus Sumut Diperkuat Melalui Program JKN

Minggu, Mei 10, 2026

MEDAN (patimpus.com) - Pemerintah memandang penyelenggara perjalanan ibadah haji khusus sebagai mitra strategis dalam  ekosistem layanan haji. Peran tersebut penting, terutama dalam memastikan jemaah memperoleh edukasi kesehatan, kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kenyamanan jemaah. 


Hal tersebut disampaikan,  serta  pendampingan layanan yang mendukung keselamatan dan Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Warsito pada kegiatan, Supervisi Implementasi Program JKN Dalam Penyelenggaraan Haji Khusus Tahun 2026, pada Kamis (07/05/2026) di Medan. 


Warsito menjelaskan, pemerintah melalui Kemenko PMK terus memperkuat fungsi koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam penyelenggaraan ibadah haji sebagai bagian dari prioritas pembangunan nasional. 


Sinergi ini diarahkan untuk mewujudkan tata kelola haji yang lebih terpadu, responsif, dan berorientasi pada perlindungan serta kualitas pelayanan jemaah.


“Perlindungan terhadap jemaah haji terus diperkuat melalui integrasi sistem jaminan sosial, termasuk optimalisasi peran BPJS Kesehatan. Upaya ini diharapkan mampu memberikan kepastian perlindungan layanan kesehatan bagi jemaah sejak tahap persiapan, pelaksanaan ibadah, hingga kepulangan ke tanah air. Kedepannya, kami juga berharap perlindungan JKN berlaku bagi Jemaah Umrah,” kata Warsito.


Deputi Direksi  Bidang Perluasan dan Kepatuhan  Peserta BPJS Kesehatan, Mangisi Raja Simarmata menyampaikan bahwa Penyelenggaraan ibadah haji bukan hanya persoalan perjalanan spiritual, tetapi juga menyangkut kesiapan kesehatan jemaah secara  menyeluruh.


Dalam konteks ini, Program JKN memiliki peran yang sangat strategis dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi jemaah, baik sebelum keberangkatan maupun setelah kembali ke tanah  air.


“Saat ini dari total nasional lebih kurang 17 ribu jemaah haji di tahun 2026, sebanyak 90,75 persen jemaah haji khusus merupakan Peserta JKN aktif. Untuk wilayah Provinsi Sumatera Utara, dari sekitar 105 Jemaah, sebanyak 98  jiwa atau 93,3 persen telah terlindungi JKN aktif,” jelas Mangisi. 


Lebih lanjut, Mangisi menyampaikan bahwa data pemanfaatan layanan kesehatan menunjukkan kebutuhan pelayanan kesehatan jemaah tetap tinggi, baik sebelum keberangkatan maupun setelah kepulangan, dengan total pembiayaan yang signifikan. 


Hal ini menegaskan bahwa Program JKN bukan sekadar program pendukung, tetapi merupakan instrumen utama dalam menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan jemaah haji. 


“BPJS Kesehatan meyakini bahwa dengan sinergi yang kuat, kita dapat memastikan setiap jemaah haji Indonesia memperoleh perlindungan kesehatan yang optimal, sehingga dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk,” kata Mangisi. 


Sementara itu, Kasubdit Pendaftaran dan Pembatalan Haji Kementerian Haji dan Umrah, Muhammad Syarif mengatakan bahwa Menteri Haji dan Umrah telah menetapkan syarat kepesertaan Program JKN aktif dalam pelunasan biaya haji khusus melalui Keputusan Menteri Haji dan Umrah RI Nomor 31 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Pengisian Kuota Haji Khusus Tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi. 


Hal ini diharapkan dapat membantu jemaah dalam mendapatkan jaminan kesehatan selama pelaksaaan haji di dalam negeri, khususnya saat akan berangkat ke tanah suci dan ketika kembali ke tanah air.


“Kewajiban kepesertaan aktif JKN dalam proses pelunasan haji merupakan bentuk implementasi amanat regulasi nasional terkait jaminan kesehatan. Sinkronisasi data antar sistem menjadi isu penting sehingga diperlukan koordinasi aktif dengan travel dan BPJS Kesehatan untuk memastikan validitas data Jemaah,” jelas Syarif.


Pada kesempatan yang sama, Direktur I PT Siar Tour, Alamria Asmardi sebagai Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) menilai bahwa keterlibatan BPJS Kesehatan sangat penting dalam memastikan kesiapan kesehatan jemaah sebelum keberangkatan. Pihaknya berharap terdapat mekanisme pengecekan status kepesertaan yang lebih dini sehingga potensi kendala administratif dapat diantisipasi sebelum masa keberangkatan.


“Disini kami ingin menyampaikan juga aspirasi masyarakat terkait kemungkinan perluasan perlindungan Program JKN, termasuk pada penyelenggaraan umrah yang frekuensi keberangkatannya jauh lebih tinggi dibanding haji,” ujar Alamria. (rel/don)

Ekobis

Pendidikan

Hukum