Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

RS Pirngadi Bertekad Berbenah Total Jelang 100 Tahun

Selasa, Agustus 11, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Pirngadi Kota Medan bertekad akan tancap gas melakukan pembenahan total menjelang satu abad usianya pada 2028 mendatang.


Dalam perayaan HUT ke-98 yang digelar melalui apel bersama, manajemen dan seluruh pegawai memperkuat komitmen untuk memperbaiki fasilitas alat medis, infrastruktur bangunan, hingga mutu pelayanan. Pembenahan intensif selama dua tahun ke depan ini juga dilakukan sebagai persiapan menghadapi akreditasi rumah sakit. 


Direktur RSUD Dr Pirngadi, dr. Mardohar Tambunan, menegaskan bahwa akreditasi tersebut akan menjadi pembuktian kelayakan mutu baku dari layanan mereka.


"Menuju usia 100 tahun RSUD Dr. Pirngadi pada 2028 nanti, kita punya waktu dua tahun untuk berbenah. Mana yang kurang, langsung kita perbaiki. Kualitas SDM juga disesuaikan agar pelayanan semakin baik. Apalagi kita juga akan menghadapi akreditasi, dan ini merupakan tolak ukur utama kita," ujar dr. Mardohar saat memimpin apel komitmen bersama, Selasa (11/8/2026).


Ia tidak menampik adanya kendala operasional yang dihadapi saat ini. Sistem pelayanan yang dinilai lambat dan keterbatasan alat medis menjadi catatan kritis yang sedang diselesaikan oleh manajemen.


"Kendala utama yang saat ini kami benahi adalah sistem pelayanan. Kami akui ada alat yang masih kurang dan pelayanan dirasa masih lambat. Belajar dari manajemen risiko tersebut, kami terus memotivasi staf. Salah satunya dengan mengadakan lomba dokter teladan, pegawai teladan, pendonor darah terbaik, hingga petugas kebersihan terbaik," jelasnya.


Saat ini, rumah sakit milik Pemko Medan ini diperkuat oleh lebih dari 154 dokter, yang terdiri dari dokter umum, spesialis, hingga dokter mitra. Dengan kekuatan penuh ini, dr. Mardohar meminta seluruh jajarannya untuk memprioritaskan kenyamanan dan kepuasan pasien.


"Kita harus terus mendekatkan diri ke pasien agar tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Evaluasi total kita mulai dari respons operasional, bagaimana kecepatan proses pendaftaran pasien, ketepatan pencatatan, follow-up pasien, hingga optimalisasi penggunaan alat medis," pungkas dr Mardohar. (don)

Semarakkan HUT RI 81, RSU Haji Medan Gelar Perlombaan Antar Pegawai

Selasa, Agustus 11, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan menggelar berbagai kegiatan untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.


Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan seluruh pegawai hingga dokter dan peserta koas yang menjalani pendidikan klinis di rumah sakit tersebut.


Direktur RSU Haji Medan, dr Yulinda Elvi Nasution MKes, mengatakan kegiatan diawali dengan perlombaan mini soccer yang digelar di lapangan mini soccer kawasan Jalan Pancing yang berlangsung 11-13 Agustus 2026.


“Perlombaan mini soccer untuk semua pegawai Rumah Sakit Haji yang berminat dan para koas yang sedang koas di Rumah Sakit Haji,” ujar Yulinda.


Selain mini soccer, panitia juga menyiapkan sejumlah perlombaan lain yang akan berlangsung pada 14 Agustus 2026. Di antaranya jalan terompah, estafet belut, tarik tambang, gerak jalan santai dan senam jantung sehat.


Ada pula lomba hias ruangan yang penilaiannya dijadwalkan pada 14 Agustus 2026. Lomba ini melibatkan ruangan-ruangan di lingkungan RSU Haji Medan dengan nuansa perayaan kemerdekaan.


Rangkaian kegiatan tersebut mengusung semangat kebersamaan dengan slogan “Semarak Kemerdekaan UPTD Khusus RSU Haji Medan ProvSU dalam rangka HUT ke-81”.


“Besok hari kedua ada perlombaan menghias ruangan seluruh ruangan rawat inap. Itu diperlombakan juga,” katanya.


Yulinda mengatakan seluruh kegiatan tersebut diikuti pegawai rumah sakit dari berbagai unsur. Mulai dari tenaga rumah sakit hingga dokter dan civitas rumah sakit turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan tersebut.


Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti perlombaan dengan semangat kebersamaan tanpa menimbulkan perselisihan.


“Harapan saya semoga semua yang berlomba ini, yang bertanding ini, tanpa ada huru-hara, tanpa ada pertengkaran. Kita harus kompak, silaturahmi terjaga, semakin maju, kemudian sama-sama membangun rumah sakit menjadi rumah sakit yang lebih baik lagi,” ujarnya.


Tidak hanya kegiatan perlombaan, rangkaian peringatan kemerdekaan juga diarahkan pada aktivitas kebugaran bersama.


Gerak jalan santai dan senam jantung sehat dijadwalkan berlangsung pada 14 Agustus 2026 mulai pukul 07.30 WIB hingga selesai.


Sementara itu, perlombaan jalan terompah dan estafet belut juga digelar pada hari yang sama. Jalan terompah diikuti tim putra dan putri dengan lima orang dalam satu tim. Adapun estafet belut diikuti tim campuran yang terdiri dari lima orang.


Perlombaan lainnya adalah tarik tambang, yang diikuti tim putra dan putri dengan delapan orang dalam satu tim.


Dalam momentum peringatan kemerdekaan, Yulinda juga berharap peningkatan pelayanan kesehatan di Sumatera Utara terus dilakukan.


Ia secara khusus berharap RSU Haji Medan dapat berkembang menjadi rumah sakit rujukan yang menjadi pilihan masyarakat.


“Untuk dunia kesehatan, semoga pemerintah, terutama Pak Gubernur, semakin meningkatkan kesehatan di Sumatera Utara ini. Pelayanan semakin bagus, khususnya untuk Rumah Sakit Haji menjadi rumah sakit favorit untuk seluruh masyarakat Sumatera Utara, untuk tempat rujukan,” katanya.


Ia juga berharap RSU Haji Medan dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.


“Kami bisa semakin baiklah dalam pelayanan kepada masyarakat,” tutup Yulinda. (don)


BPOM Komitmen Perkuat Sinergi Dengan PP IAI Dalam Penyusunan Regulasi Obat Dan Makanan

Kamis, Agustus 06, 2026

MEDAN (patimpus.com) - Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) menggelar Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IAI 2026 bertema "One Health, One Pharmacy, Synergy for National Resilience" di Ballroom Hotel Santika, Medan, Kamis – Sabtu  (6-8 Agustus 2026). 


Pertemuan yang diikuti apoteker dari berbagai daerah di Indonesia itu menjadi forum memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung ketahanan kesehatan nasional di tengah berkembangnya tantangan penyakit, kemajuan teknologi kefarmasian, hingga upaya mewujudkan kemandirian obat nasional.


Dalam upacara pembukaan kegiatan yang diikuti oleh lebih dari 1.300 apoteker ini, hadir Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., sebagai keynote speaker.

Dalam kesempatan itu Taruna Ikrar menegaskan profesi apoteker memegang peran yang sangat fundamental dalam sistem kesehatan nasional sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.


Menurut Taruna, peran apoteker tidak hanya terbatas pada pelayanan kefarmasian, tetapi mencakup seluruh rantai pengelolaan obat, mulai dari penyediaan bahan baku, penelitian dan pengembangan (research and development), produksi, distribusi, hingga pemanfaatan obat di fasilitas kefarmasian dan fasilitas pelayanan kesehatan.


"Kalau kita melihat, apoteker Indonesia memberi peran yang sangat fundamental berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023. Mulai dari bahan baku, proses research and development, pengembangannya hingga pemanfaatannya di fasilitas kefarmasian dan fasilitas kesehatan, peran apoteker sangat urgen, sangat penting, sangat esensial," ujar Taruna di dampingi Ketua PP IAI Lilik Yusuf Indrajaya, Ketua IAI Sumut, Agustama dan Ketua Panitia apt Ahmad Sofan M.Farm.



Karena itu, ia menegaskan BPOM berkomitmen memperkuat sinergi dengan PP IAI. Bahkan, dalam kepemimpinannya sebagai Kepala BPOM, organisasi profesi tersebut akan dilibatkan dalam penyusunan berbagai regulasi di bidang obat dan makanan.


"Dalam membuat peraturan-peraturan atau regulasi saya janji akan melibatkan teman-teman Ikatan Apoteker Indonesia," katanya.


Taruna menilai kolaborasi tersebut sangat penting untuk memperkuat riset dan pengembangan obat baru serta mendorong kemandirian farmasi nasional. Saat ini, sekitar 94 persen bahan baku obat kimia masih bergantung pada impor, sedangkan bahan baku obat biologik dan biosimilar masih 100 persen berasal dari luar negeri.


"Dorongan dari asosiasi profesi untuk research and development, transfer teknologi, dan pengembangan obat-obat baru sangat kita butuhkan," ujarnya.


Selain berperan dalam riset, Taruna mengatakan apoteker juga memiliki posisi penting dalam distribusi dan pelayanan kefarmasian karena sebagian besar pelaku industri maupun distributor farmasi merupakan anggota Ikatan Apoteker Indonesia.


Menurutnya, sinergi yang kuat antara BPOM dan PP IAI akan memperkuat peran negara dalam melindungi masyarakat melalui pengawasan obat yang lebih optimal.


"Jika Badan POM bersinergi dengan kuat dengan Ikatan Apoteker Indonesia, maka saya yakin peran kami sebagai pengayom masyarakat, pelindung masyarakat, dan penjamin masyarakat dalam keamanan, ketersediaan, kualitas, dan efikasi obat dapat dilaksanakan secara lebih maksimal," tegas Taruna.


Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang membuka kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting, menegaskan pembangunan kesehatan harus berorientasi pada upaya menjaga masyarakat tetap sehat sehingga angka kematian akibat penyakit tidak menular dapat ditekan.


Menurut Menkes, perkembangan teknologi kesehatan telah mengubah wajah industri farmasi dari obat berbasis kimia menuju obat berbasis bioteknologi, termasuk biologik, biosimilar, monoclonal antibodies, protein inhibitor, GLP-1, dan PCSK9 inhibitor.


Karena itu, apoteker didorong terus meningkatkan kapasitas agar mampu mengikuti perkembangan teknologi tersebut.


"Mari kita bangun industri obat yang baik, yang sehat, yang maju, yang modern sehingga masyarakat Indonesia semakin sehat, lebih sedikit yang sakit," ujar Budi.


Selain itu, Budi mengingatkan ancaman resistensi antimikroba akibat penggunaan antibiotik yang tidak terkendali.


"Saya sangat takut jangan sampai generasi muda sesudah kita menjadi resisten terhadap antibiotik. Begitu ada penyakit infeksi, mereka tidak bisa kita selamatkan," katanya.


Mewakili Gubernur Sumatera Utara, Wakil Gubernur Sumatera Utara H. Surya menyampaikan apresiasi kepada PP IAI yang mempercayakan Sumatera Utara sebagai tuan rumah penyelenggaraan PIT IAI 2026.


Menurut Surya, tema One Health mengingatkan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan sehingga diperlukan kolaborasi lintas profesi dan lintas sektor dalam menjawab berbagai tantangan kesehatan.


"Kami berharap pertemuan ilmiah ini tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga menjadi ruang lahirnya inovasi, kolaborasi, dan rekomendasi kebijakan yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan Indonesia," ujarnya.


Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) periode 2026–2030, Lilik Yusuf Indrajaya, menegaskan tema "One Health, One Pharmacy, Synergy for National Resilience" mencerminkan tantangan kesehatan yang semakin kompleks dan tidak dapat lagi diselesaikan secara sektoral.


Menurutnya, persoalan kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan, keamanan obat dan pangan, inovasi teknologi, hingga transformasi sistem kesehatan merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan.


Dalam konteks tersebut, profesi apoteker memiliki posisi yang semakin strategis sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan, pelayanan kesehatan, regulasi, industri farmasi, dan masyarakat.


"Tema ini menegaskan bahwa tantangan kesehatan tidak dapat dipandang secara sektoral. Kesehatan manusia, hewan, lingkungan, keamanan obat, pangan, inovasi teknologi, serta transformasi sistem kesehatan merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan. Dalam konteks itu, profesi apoteker memiliki posisi yang semakin strategis," kata Lilik.


Ia mengatakan pengakuan terhadap peran strategis apoteker juga disampaikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Prof. dr. Taruna Ikrar.


Menurut Lilik, organisasi profesi memiliki kekuatan karena didukung kompetensi anggotanya sekaligus memiliki pengalaman langsung di berbagai lini pelayanan kefarmasian.


"Prof. Taruna menyampaikan bahwa organisasi profesi memiliki posisi yang strategis. Kita hadir mulai dari industri, distribusi, hingga pelayanan kefarmasian di puskesmas, klinik, apotek, dan rumah sakit. Selain memiliki pengalaman yang spesifik, kita juga memiliki kompetensi. Ini menjadi kebanggaan bagi kami karena profesi apoteker mendapat pengakuan tersebut," ujarnya.


Lilik menegaskan PP IAI ingin menjadi rumah besar bagi seluruh apoteker Indonesia dengan mengedepankan keselamatan pasien (patient safety), peningkatan kompetensi, peningkatan kesejahteraan anggota, perlindungan profesi, serta penyusunan kajian dan rekomendasi kebijakan berbasis keilmuan.


Menurutnya, keberadaan praktisi dan akademisi di tubuh organisasi menjadi kekuatan PP IAI dalam menyusun berbagai kajian yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan di bidang kefarmasian.


"Karena kita memiliki praktisi dan akademisi, maka kita akan memberikan kajian-kajian dan masukan kepada pemerintah. Semakin baik kajian dan argumentasi yang kita berikan, tentu akan menjadi masukan terbaik dalam penyusunan regulasi," katanya.


Ia mengakui regulasi kefarmasian terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Di sisi lain, harapan anggota terhadap organisasi profesi juga semakin tinggi sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi kepengurusan PP IAI periode 2026–2030.


"Regulasi apoteker banyak berubah. Kebutuhan masyarakat semakin meningkat, demikian juga harapan anggota terhadap organisasi. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kepengurusan saat ini," ujar Lilik.


Karena itu, PP IAI berkomitmen memperkuat sinergi tidak hanya dengan pemerintah pusat dan regulator, tetapi juga pemerintah daerah melalui asosiasi pemerintah daerah agar berbagai persoalan kefarmasian di daerah dapat dipahami dan ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan.


"Kita akan bersinergi dengan pemerintah daerah sehingga mereka memahami kondisi pelayanan kefarmasian dan tenaga kefarmasian saat ini. Dengan begitu, kita dapat memberikan masukan yang konstruktif untuk mendukung kebijakan yang berpihak kepada masyarakat," katanya.


Lilik menambahkan era saat ini merupakan era kolaborasi. Menurutnya, organisasi profesi harus mampu menjadi wadah untuk menyerap aspirasi anggota, memfasilitasi kebutuhan profesi, mengapresiasi kontribusi anggota, serta membangun sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.


"Era kolaborasi adalah bagaimana kita bisa berkontribusi, menyerap aspirasi, memfasilitasi anggota, mengapresiasi seluruh pihak, dan bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk kemajuan kefarmasian Indonesia," ujarnya.


Di akhir sambutannya, Lilik mengajak seluruh peserta menjadikan Kongres dan PIT IAI 2026 sebagai momentum memperkuat persatuan profesi, meningkatkan kompetensi, memperluas kolaborasi, serta membangun sistem kefarmasian Indonesia yang semakin maju, adaptif, dan berdaya saing tinggi guna mendukung terwujudnya ketahanan kesehatan nasional. (don)

Kaper BKKBN Sumut Kukuhkan Walikota Medan Jadi Duta Penggerak Ayah Teladan

Rabu, Agustus 05, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Walikota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, secara resmi dikukuhkan sebagai Duta Penggerak Ayah Teladan Kota Medan oleh Kepala Perwakilan (Kaper) BKKBN Provinsi Sumatera Utara, Mahyuzar. 


Pengukuhan ini ditandai dengan penyematan selempang dan penyerahan piagam atas peran aktif Rico Waas dalam mendukung seluruh program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), di Balaikota, Rabu (5/8/2026).


Usai dikukuhkan, ditempat yang sama Rico Waas juga langsung mengukuhkan para Camat se Kota Medan untuk menjadi Duta Penggerak Ayah Teladan tingkat Kecamatan.


Dalam sambutannya, Rico Waas menekankan bahwa menjadi seorang ayah adalah predikat tertinggi yang melampaui segala bentuk jabatan duniawi.


"Jabatan tertinggi apa yang dimiliki seorang pria? kalau dipahami tentu menjadi seorang Ayah, menjadi seorang suami, pemimpin dalam keluarga. Jabatan lain punya masa waktu dan bisa berhenti kapan saja, tapi jabatan sebagai Ayah dibawa hingga akhir hayat," tegas Rico Waas.


Rico Waas juga mengingatkan seluruh pimpinan wilayah agar tidak menjadikan penyematan selempang ini sebagai formalitas semata. Keharmonisan dan keberhasilan dalam memimpin keluarga harus menjadi contoh nyata sebelum membenahi masyarakat luas.


"Aneh rasanya jika kita berprestasi di wilayah, tapi anak atau istri sendiri tidak bahagia. Pembenahan harus dimulai dari rumah, bagaimana hubungan dengan istri, keharmonisan dalam keluarga, dan memastikan anak merasa aman serta nyaman. Jika keluarga kita berhasil, kinerja di wilayah pasti jauh lebih maksimal," tambahnya.


Sementara itu Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumut Mahyuzar, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dari Menteri kepada Walikota Medan atas komitmennya menggerakkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI).


Menurut Mahyuzar, pengasuhan dan pendidikan anak tidak boleh lagi dibebankan sepenuhnya kepada sosok ibu. Peran ayah yang hadir secara emosional, aktif, dan setara merupakan fondasi utama lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.


"Melalui pengukuhan ini, saya berharap budaya ayah hadir, ayah terlibat, dan ayah peduli tidak hanya berhenti di tingkat Balai Kota dan Kecamatan, tetapi menular hingga ke tingkat kelurahan, lingkungan sekolah, dan seluruh lapisan masyarakat Kota Medan," harap Mahyuzar.


Ia juga memberikan apresiasi kepada Pemko Medan sebagai instansi pemerintah yang memberikan kelonggaran waktu bagi para ASN dan pejabat daerah untuk mengantar anak pada hari pertama sekolah maupun saat pengambilan rapor di jam kerja.


Dalam pengukuhan tersebut turut hadir Ketua TP PKK Kota Medan Ny. Airin Rico Waas, Plh Sekda Kota Medan Erfin Fahrurrazi serta Pimpinan Perangkat Daerah di lingkungan Pemko Medan. (rel/don)

Kaper BKKBN Sumut Mahyuzar Berupaya Perkuat dan Mempercepat Sejumlah Program Termasuk Stunting

Kamis, Juli 23, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Kepala Perwakilan (Kaper) Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Sumatera Utara, Dr Mahyuzar mengatakan pihaknya upaya memperkuat capaian Program Quick Wins dan mempercepat pelaksanaan Program Bangga Kencana serta Percepatan Penurunan Stunting.


Hal itu dikatakannya saat bersilahturrahmi dengan sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB), Rabu (22/7/2026) di KA Kupi Jalan HM Yamin Medan.


Mahyuzar  yang masih baru bertugas di Sumut  sebelumnya  Dr Fatmawati ST MEng dan kini menjabat sebagai Kaper BKKBN Sulawesi,  Silaturrahmi berlangsung penuh keakraban, saling berkenalan penuh canda dan ria dengan para jurnalis.


Kaper BKKBN Sumut menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, tenaga lini lapangan, dan pemangku kepentingan lainnya dalam memperkuat program prioritas nasional, termasuk peran media dan yang di dalam jurnalis.


“Program Quick Wins harus benar-benar menjadi gerakan bersama. Optimalisasi tenaga lini lapangan dan media sangat penting mempublikasikan ke publik program dan kegiatan yang dilakukan. Apapun yang dilkaukan jika tidak terpublikasi dengan baik akan kurang maknanya,”ujarnya didampingi para aparatur BKKBN Sumut.


Diungkapkannya, Terdapat Lima program quick win yang dicanangkan Kemendukbangga/BKKBN yaitu: Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) , Lansia Berdaya (SIDAYA)  dan Supper Apps tentang Keluarga.


Program quick win merupakan sebuah strategi atau serangkaian inisiatif terobosan yang dirancang untuk memberikan hasil yang nyata, terlihat, dan dirasakan manfaatnya dalam waktu singkat. Program ini  bertujuan untuk mempercepat target pembangunan, memberikan dampak langsung kepada masyarakat dan membangun kepercayaan.


Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan,dan Keluarga Berencana) yang dikelola oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / BKKBN berfokus  pilar utama: pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, serta keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.


GENTING adalah singkatan dari Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting. Ini merupakan program gotong royong dari BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) yang mengajak berbagai elemen masyarakat untuk menjadi “orang tua asuh” bagi keluarga berisiko stunting.Fokus dan Sasaran ProgramSasaran Utama: Ibu hamil, ibu menyusui, bayi di bawah dua tahun (baduta), dan balita dari keluarga berisiko stunting atau keluarga kurang mampu.


Program TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak) adalah inisiatif BKKBN untuk menyediakan tempat penitipan anak (TPA) terintegrasi, aman, dan berkualitas. Program ini memungkinkan orang tua untuk tetap produktif bekerja dengan tenang, sementara tumbuh kembang anak usia dini tetap terpantau dengan baik.


Layanan utama program Tamasya ini untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak:Pemantauan Tumbuh Kembang: Memantau fisik (berat dan tinggi badan) serta mendeteksi indikasi kekerasan atau risiko stunting secara berkala.Kompetensi Pengasuh: Memastikan pengasuh bersertifikasi dan terlatih melalui kelas dan pendampingan.Dukungan Orang Tua: Meningkatkan keterlibatan keluarga dalam pola asuh anak.Sistem Rujukan: Menyediakan rujukan terintegrasi ke fasilitas kesehatan jika ditemukan masalah tumbuh kembang.


Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) merupakan Program ini berfokus meningkatkan peran aktif dan kehadiran emosional ayah dalam pengasuhan anak, mencegah fenomena anak tanpa sosok ayah (fatherless), serta mendukung tumbuh kembang optimal generasi.


Sasaran dalam Program Gerakan Ayah Teladan (GATI) ini adalah, remaja laki-laki sebagai calon ayah, para ayah yang memiliki anak usia dini,para ayah yang memiliki anak pra-remaja, dan Para ayah yang memiliki remaja usia 10-24 tahun dan belum menikah.


SIDAYA (Lansia Berdaya) adalah program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga / BKKBN yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan produktif. Program ini disinergikan dengan Super Apps Keluarga (SAKINA), sebuah platform digital berbasis AI yang menyediakan akses layanan kependudukan, informasi, dan konseling keluarga secara menyeluruh.


Tujuan program ini untuk meningkatkan kesejahteraan lansia dengan memberikan layanan yang bermanfaat dan memastikan lansia tetap aktif, sehat, dan produktif melalui pendekatan 7 dimensi lansia tangguh. Pada intinya SIDAYA memberdayakan lansia sesuai kapasitas/kemampuan yang sesuai, demikian Mahyuzar. (don)

Rico Waas: Revitalisasi RSUD Dr. Pirngadi Harus Dibarengi Pembenahan Tata Kelola

Selasa, Juli 21, 2026

MEDAN (patimpus.com) - Revitalisasi RSUD Dr Pirngadi Medan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembenahan tata kelola dan manajemen rumah sakit. 


Hal itu ditegaskan Walikota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat mendampingi Wakil Menteri Kesehatan dr Benjamin Paulus Octavianus, SpP FISR meninjau RSUD Dr Pirngadi Medan, Selasa (21/7/2026).


Menurut Rico Waas, Pemko Medan telah menyiapkan rencana pengembangan rumah sakit dan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan agar proses revitalisasi berjalan lebih efektif serta sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.


"Perencanaannya sudah ada. Selanjutnya akan kami koordinasikan kembali dengan Kementerian Kesehatan agar desain dan penataan ruang rumah sakit disupervisi sehingga lebih efektif dan efisien," kata Rico Waas didampingi Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap, Sekretaris Daerah Wiriya Alrahman, dan Plt Direktur RSUD Dr Pirngadi Mardohar Tambunan.


Rico Waas mengungkapkan Kementerian Kesehatan memberikan sinyal positif terhadap rencana pengembangan RSUD Dr. Pirngadi. Namun, menurutnya, pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan pembenahan sistem kerja dan tata kelola rumah sakit.


"Yang terpenting bukan sekadar membangun gedung baru, tetapi juga memperbaiki sistem dan manajemennya agar lebih profesional. Minggu depan tim kami akan kembali berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk menindaklanjuti supervisi teknis," ujarnya.


Selain membahas revitalisasi, peninjauan tersebut juga memastikan kesiapan fasilitas RSUD Dr. Pirngadi dalam mendukung penanganan tuberkulosis (TB). Rico Waas mengapresiasi dukungan Kementerian Kesehatan yang telah melengkapi rumah sakit milik Pemko Medan itu dengan berbagai peralatan kesehatan modern, seperti CT Scan dan Cath Lab, yang kini telah dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.


Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus menjelaskan kunjungan tersebut bagian dari upaya pemerintah mempercepat penanggulangan tuberkulosis (TB), mengingat Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia.


"Kita datang untuk meninjau sarana dan prasarana rumah sakit yang menangani kasus-kasus TB. Hari ini tugas khusus kami bersama Pak Wamendagri adalah bagaimana pemberantasan TB di Indonesia, karena kasus TB kita masih nomor dua di dunia," kata Benjamin.


Ia mengatakan pemerintah terus memperkuat deteksi dini melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilengkapi layanan X-ray portable bagi kontak erat pasien TB. 


Berdasarkan hasil peninjauan, Benjamin menilai fasilitas RSUD Dr. Pirngadi telah cukup baik untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.


"Ternyata setelah kita tinjau, fasilitasnya sudah cukup baik. Kami datang untuk melihat langsung kesiapan fasilitas kesehatan di daerah dan apa saja yang masih perlu diperkuat," pungkasnya. (don)

Ekobis

Pendidikan

Hukum

Kesehatan

Komunitas

Jajanan