 |
| Penulis saat mendampingi Arief, pengamen jalanan yang butuh perawatan di RSUD dr Pirngadi Medan, dengan menggunakan fasilitas program UHC. (foto : Doni) |
Penulis : DONI
SUASANA Kota Medan terlihat sepi pasca diguyur hujan sejak Minggu sore, 5 Juli 2026. Pacu sepeda motorku menembus embun yang dingin yang menyelimuti jalanan yang basah. Untung saja aku memakai jaket sehingga tubuhku tetap hangat.
Mataku liar mencari warung yang masih buka di pukul 02.00 WIB. Salah satu kawasan di Kota Medan ini terlihat gelap dan hanya diterangi lampu kendaraan yang lewat satu persatu. Beberapa warung kecil yang kuhampiri, tak satu pun yang menyediakan barang yang kucari. Bahkan minimarket pun tak ada yang buka.
Sepeda motorku terus melaju ke arah Jalan Denai yang selalu ramai hingga pagi hari, menjauh dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan.
“Aku harus mendapatkan materai 10.000 itu, agar Si Arief bisa dirawat inap,” gumamku dalam hati.
Untunglah, belum sampai di Jalan Denai ada gerai minimarket yang buka. Aku langsung membeli selembar materai 10.000 dan kembali ke rumah sakit milik Pemerintah Kota Medan itu.
Tiba di rumah sakit, aku menyerahkan materai itu ke petugas bagian pendaftaran pasien yang terletak di sebelah kiri Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit kebanggan warga Kota Medan itu. Lalu aku masuk ke IGD untuk memastikan Si Arief ditangani tim medis dengan baik.
Aku mengantarkan Pengamen Jalanan ini ke rumah sakit karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Yang dimilikinya hanya selembar Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk. Sedangkan keluarganya sudah tidak ada. Istrinya meninggal dunia karena sakit tumor ganas saat dirinya menjadi warga binaan Lapas Tanjung Gusta Medan, lalu kedua anaknya dibawa mertuanya ke Pulau Batam, Kepri.
Sedangkan aku, bukan siapa-siapanya. Pemuda 46 tahun bernama lengkap Arief Fadillah Harahap ini, hanya berkeliaran di tempat aku bekerja. Penampilannya seperti anak punk, rambutnya dijigrakkan pakai gel pengeras rambut, pakaiannya lusuh, kumal, dekil dan bau, karena tidak pernah mandi. Sebuah gitar kecil selalu dibawanya.
Sebelum berkeliaran di tempatku bekerja, dia kerap mangkal di Jalan Halat Medan, tempat jajanan malam yang selalu ramai sampai pagi. Tidurnya pun di emperan toko.
Belakangan dia mengeluh sakit. Perutnya seperti ditusuk-tusuk dari dalam dan semakin membesar. Dadanya sesak dan kaki bengkak. Tak hanya itu, salah satu buah zakarnya membesar, orang medis menyebutnya hernia.
“Bang, bawa aku ke rumah sakit,” pintanya kepadaku.
“Apa?” tanyaku bernada heran. Aku tahu statusnya, jadi gak perlu aku tanyakan dimana keluarganya. Yang kuherankan kenapa harus aku.
“Abang kan wartawan kesehatan. Mitra BPJS Kesehatan,” katanya. Bah, kok tahu dia. Pasti ada yang memberitahu.
Aku teringat arogansi dia ketika masih sehat dan berkeluarga. Membawa senjata tajam dan tombak kemana pun dia pergi. Selalu bertelanjang dada untuk menunjukkan tatoo di tubuhnya. Miras dan narkoba menjadi konsumsinya sehari-hari. Dia pun tak mengenalku, begitu juga aku.
Sejak bocah dia hidup di jalanan Kota Medan yang keras. Sebuah yayasan membina anak jalanan pernah membinanya. Disanalah dia menemukan seorang gadis pujaan hatinya. Gadis itu tinggal di sebuah perkampungan tak jauh dari yayasan tersebut. Dari hasil pernikahan, keduanya dikarunia dua orang anak laki-laki dan perempuan.
Melihat kondisinya, aku pun merasa iba. Lalu aku teringat bahwa Arief pernah berkeluarga dan pasti punya Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Entah kenapa, aku tergerak untuk mengurus dan membantunya.
Aku teringat dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda : "Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan senantiasa membantu kebutuhannya."
“Kau kan pernah berkeluarga, apa masih menyimpan kartu keluarga?” tanyaku pada Arief.
“Gak tahu lagi aku, Bang. Entah dimana pun KKnya. KTP pun gak punya. Hilang,” ungkapnya.
Dalam hati aku berpikir, mungkin mertuanya masih menyimpan kartu keluarganya. Lalu aku menghubungi kakak ipar Si Arief di Batam melalui aplikasi messenger facebook yang kebetulan berteman denganku. Sayangnya, perempuan bernama Wati itu tak menyimpannya.
Tak habis akal, aku menelusuri perkampungan yang dulu pernah ditinggali keluarga ini. Menanyakan kartu keluarganya ke mantan tetangganya. Alhamdulillah, akhirnya dapat. Tetapi hanya fotocopynya saja, sedangkan KK aslinya sudah hilang terbawa arus banjir besar yang melanda perkampungan yang terletak di pinggir Sungai Deli tersebut.
Bermodalkan fotocopy KK itu, aku meminta Arief untuk mengurus KTP ke Kantor Lurah Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun. Dalam sehari, dia pun sudah memiliki KTP baru.
“Nanti malam pulang kerja aku antar kau ke rumah sakit,” ujarku padanya.
Namun sebelumnya, aku terlebih dahulu memeriksa keaktifan Arief sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di aplikasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Kemensos RI.
Setelah memasukkan Nomor Induk Kartu (NIK), ternyata Arief terdaftar sebagai Peserta Bukan Iuran - Jaminan Kesehatan (PBI-JK) terhitung Desember 2025, dengan Desil 6-10. Setelah melihat data tersebut aku menjadi heran kenapa keluarga menengah ke bawah ini masuk ke Desil 6-10 yang dikategorikan sebagai keluarga mampu.
Masih dalam kebingungan, aku kembali memeriksa kepesertaan Arief melalui PENDAWA di aplikasi Whatsapp dan hasilnya kepesertaan Arief di BPJS Kesehatan sudah tidak aktif lagi. Lalu aku bertanya dan konsultasi kepada kawan-kawan jurnalis dan juga ke staff Humas BPJS Kesehatan Cabang Medan bahwa ketidakaktifan kepesertaan Arief berdasarkan keputusan Kemensos RI yang membatasi kuota peserta PBI yang ditanggung oleh APBN dan digantikan kepada peserta PBI yang baru.
“Kalau dia punya KTP Medan, pakai UHC saja, Bang. Bawa ke RS Pirngadi,” kata Mursal AI, rekan jurnalis yang juga bertugas di bagian kesehatan.
Senin, 6 Juli 2026, dinihari, lepas bekerja, aku membawa Arief ke RSUD dr Pirngadi Medan, yang terletak di Jalan HM Yamin. Kondisinya sudah sangat lemah, dadanya sesak dan susah berjalan.
Di ruang IGD, aku mengatakan kepada petugas medis bahwa Arief seorang tuna wisma dan butuh perawatan. Yang dimilikinya hanya fotocopy KK dan KTP. Kemudian aku diminta ke bagian pendaftaran pasien.
Petugas mengatakan bahwa PBI Arief sudah tidak aktif dan dia berupaya mendaftarkannya melalui program Universal Health Coverage (UHC) atau Cakupan Kesehatan Semesta yang merupakan sistem jaminan yang memastikan setiap warga memiliki akses adil dalam layanan kesehatan bermutu, mulai dari pencegahan hingga pengobatan tanpa mengalami kesulitan finansial.
Setelah mengisi biodata pendaftaran aku pun diminta menyediakan materai 10.000. “Alamak! Kemanalah kucari materainya jam 2.00 malam gini. Tempat fotocopy, kantor pos dan minimarket di sekitar rumah sakit ini sudah tutup. Tunggulah, Bang. Kucari dulu,” kataku kepada petugas.
Setelah memperoleh materai di gerai minimarket, aku menyerahkannya kepada petugas dan dia memproses pendaftaran Arief menjadi pasien di RS Pirngadi. Setelah Arief ditangani tim medis, dipastikan Arief akan diopname dan dirawat inap beberapa hari sebagai pasien UHC BPJS Kesehatan.
“Terima kasih ya Bang, sudah bantu aku,” ucap Arief lirih yang berusaha menyembunyikan air matanya. Dalam hati aku berkata, baru kali ini aku melihat preman menangis di depanku.
Aku menjenguk Arief setiap hari yang dirawat di Lantai 5 Ruang Tulip I No 501 RSUD dr Pirngadi Medan. Di ruangan itu hanya ada tiga bed yang diisi dua pasien, Arief dan satu pasien lagi. Ruangannya bersih berlantai keramik dan memiliki Air Condition (AC), TV dan kamar mandi yang bersih.
Seperti sabda Nabi SAW dalam HR Bukhari dalam Adabul Mugrad : "Barang siapa menjenguk orang sakit, maka ia masuk ke dalam rahmat (Allah). Dan apabila ia duduk di sisi orang sakit tersebut, maka ia akan menetap di dalam rahmat tersebut."
Pelaksana Tugas Direktur RSUD dr Pirngadi Medan, Mardohar Tambunan mengatakan, pihaknya terus melakukan pembenahan dan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada setiap pasien, apa pun status pasiennya.
“RS Pirngadi salah satu rumah sakit pemerintah yang melayani pasien yang tercover JKN-KIS BPJS Kesehatan dan program UHC,” ungkapnya ketika ditemui di rumah sakit tersebut.
Sekedar mengingatkan, Kota Medan telah berhasil mencapai program UHC karena 98 persen warganya sudah terdaftar menjadi peserta JKN-KIS BPJS Kesehatan, sehingga warga Kota Medan yang ingin berobat gratis cukup menunjukkan KTP saja di seluruh puskesmas dan rumah sakit mana saja yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
Bagi warga baru yang berdomisili di Medan, butuh 3 bulan untuk mendapatkan layanan UHC ini. Saat berobat, cukup menunjukkan menyerahkan fotocopy KK dan KTP ke pihak puskesmas atau pun rumah sakit. Walau pun berada di luar Kota Medan, warga tetap dapat menggunakan hak berobat UHC dalam kondisi darurat di fasilitasi jejaring BPJS Kesehatan.
Setiap hari aku memantau perkembangan Arief yang di rawat di ruang Tulip I Kamar 501 Lantai 5 RSUD dr Pirngadi Medan. Di kamar itu terdapat bed tempat tidur yang bersih dan kasur yang bagus. Terdapat 3 bed di ruangan itu dan satu unit televisi digital yang digantung di dinding. Sebuah jendela menghadap ke arah Jalan Perintis Kemerdekaan dan dilengkapi dengan Air Conditioning yang keluar dari plafon. Di kamar itu Arief tidak sendirian, ada seorang pasien pria yang masih muda dan juga tuna wisma.
Selama 7 hari Arief menjalani perawatan di RSUD dr Pirngadi Medan dan dia sudah diperbolehkan pulang. Kini Arief kembali beraktifitas sebagai pengamen jalanan. “Bang, terima kasih banyak sudah membantu aku,” ungkapnya tak kuasa menahan tangis.
Entah kenapa, orang yang selama ini tak pernah dekat denganku meluapkan isi hatinya. Dia ingin tobat jika penyakit sudah sembuh dan mencari pekerjaan yang baik dan halal.
“Kau rasakan sendiri kan? Kemana kawan-kawan waktu kau bersenang-senang. Ketika sakit, tak ada yang peduli. Hilang semuanya. Aku ada karena Allah masih sayang sama kau. Mulai sekarang kau berubah dan mulailah belajar shalat,” ucapku sambil terus menatapnya yang berusaha menyembunyikan rasa malu dan penyesalan.
Kisah Arief ini menjadi inspirasiku untuk mengikuti lomba karya tulis jurnalis yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan tingkat nasional dalam kategori Media Online.
Kenapa harus Arief? Kenapa bukan pejabat yang kesohor? Kita tahu bahwa pemerintah menghadirkan BPJS Kesehatan secara bergotongroyong untuk membantu warga mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Dengan adanya UHC yang dilaunching oleh Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Afif Bobby Nasution, pada tahun lalu sangat membantu masyarakat Sumut khususnya Kota Medan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis.
Arief bukan orang kaya atau pun pejabat. Dia hanyalah satu dari gelandangan yang punya hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Jika kita mau bergerak, menelusuri satu persatu setiap gelandangan yang ada, pasti mereka pernah memiliki KK atau pun KTP untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis melalui program UHC atau pun PBI BPJS Kesehatan. Semoga tulisan ini menjadi inspirasi kita semua untuk membantu sesame. SEKIAN….
(Penulis adalah jurnalis media online patimpus.com)