Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunitas. Tampilkan semua postingan

PW PERSIS Sumut Dan UIN SU Kupas Ijtihad Kontemporer Jawab Tantangan Global

Rabu, September 30, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) - Menyongsong Musyawarah Kerja Nasional (Musykernas) V yang akan dilaksanakan pada akhir November 2026 di Medan, Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PW PERSIS) Sumatera Utara (Sumut) berkolaborasi dengan Program Doktoral Hukum Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) dan Program Magister Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumatera Utara menggelar International Conference di Hotel Madani Medan, Rabu (30/9/2026).

‎

‎Konferensi yang merupakan rangkaian dari Pra Musykernas V ini mengangkat tema 'Contemporary Ijtihad and the Renewal of Islamic Law : Reconstructing Sharia Responses to Global Challenges'.

‎

‎Lebih menariknya lagi, Konferensi tersebut menghadirkan Empat Guru Besar dan ulama yang memaparkan berbagai gagasan cemerlang dan nantinya akan menjadi bekal untuk gerakan dakwah PERSIS kedepan.

‎

‎Empat Guru Besar dan ulama yang hadir dalam acara International Conference tersebut diantaranya Ketua PW PERSIS Sumut, KH. Muhammad Nuh, M.SP sebagai Keynote Speaker, Prof. Madya Muhammad Ikhlas Rosele, PhD dari Universiti Malaya, Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga UIN SU Medan Prof. Dr. Sukiati, MA dan Prof. Dr. Ansari Yamamah, MA merupakan Penggagas Islam Transitif.

‎

‎Sebagai Keynote Speaker, dalam sambutannya, Ketua PW PERSIS Sumut, KH. Muhammad Nuh, M.SP menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kolaborasi ini sebagai respon nyata jam’iyah terhadap isu global.

‎

‎“PW PERSIS Sumut akan mengambil manfaat besar dari konferensi ini sebagai bekal dai dalam berdakwah di tengah masyarakat yang kompleks,” pungkas M. Nuh sapaan akrab KH. Muhammad Nuh, M.SP.

‎

‎M. Nuh juga memaparkan beberapa poin pentingnya, Nuh menyoroti Fatwa di Era Globalisasi adalah Keniscayaan. Menurutnya tantangan ekonomi digital, krisis peradaban, dan isu kontemporer tidak bisa dijawab dengan fatwa statis.

‎

‎M. Nuh juga mengutip Yusuf Al-Qardhawi tentang pentingnya Tafsir Fi Ad-Dakwah yang menafsirkan Quran-Sunnah dengan kacamata dakwah yang membumi dan solutif.

‎

‎“Pintu Ijtihad Tidak Pernah Tertutup. PERSIS adalah gerakan tajdid, dan ijtihad adalah fardhu kifayah hari ini. Namun  Jangan Tinggalkan Tsawabit. Prinsip-prinsip pokok agama (Aqidah, Ushul Ibadah, Qath’iyat) harus tetap kokoh. Yang dinamis adalah Mutaghayyirat-nya," papar M. Nuh.

‎

‎Hadir pula Guru Besar Pakar Ushul Fiqh, Prof. Madya Muhammad Ikhlas Rosele, PhD dari Universiti Malaya. Beliau memaparkan hakikat Mashlahat dan Ijtihad.

‎

‎Dalam pemaparannya, Prof. Madya Muhammad Ikhlas Rosele, PhD mencontohkan kisah sahabat yang sangat masyhur.

‎

‎Beliau mengisahkan Ketika Nabi SAW bersabda 'Jangan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah'. Di tengah perjalanan waktu Ashar tiba. Sebagian sahabat shalat di jalan karena memahami maksud Nabi adalah agar bersegera, sebagian lagi tetap shalat di Bani Quraizhah karena memahami teks secara literal. Nabi SAW tidak menyalahkan keduanya.

‎

‎“Itulah ijtihad. Perbedaan dalam memahami mashlahat adalah rahmat,” tegas Prof. Madya Muhammad Ikhlas Rosele, PhD.

‎

‎Sementara itu, dalam acara tersebut Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga UIN SU Medan Prof Dr Sukiati MA mengangkat isu yang sangat aktual terkait Hukum Perceraian dalam Perspektif Perbandingan Indonesia-Maroko, dengan merujuk QS. Al-Baqarah : 220.

‎

‎Prof. Sukiati memaparkan hasil kajiannya dihadapan para peserta yang hadir dalam acara itu. Menurut Prof. Sukiati dalam hasil kajiannya, Di Maroko. Sistem hukum lebih progresif dalam menempatkan harkat perempuan. 

‎

‎Ayah wajib membayar nafkah secara tegas, dan istri tidak perlu lapor polisi untuk mendapatkan haknya. Perempuan Maroko lebih berani menuntut keadilan. 

‎Di Indonesia, mekanismenya hampir sama namun tidak otomatis.

‎

‎Prof. Sukiati pun menyimpulkan bahwa Ijtihad harus terus digaungkan kembali untuk melahirkan hukum keluarga yang lebih berkeadilan dan melindungi perempuan.

‎

‎Pada sesi penutup yang paling filosofis, Prof. Dr. Ansari Yamamah, MA (Penggagas Islam Transitif) mengulas judul 'Nalar Ushul Fiqh Transitif dan Kolaborasi Transdisipliner'.

‎

‎Menurut Prof. Ansari Yamamah, Ushul Fiqh Transitif adalah pembacaan ulang terhadap Ushul Fiqh. Ushul Fiqh tidak lagi hanya sebagai alat istinbath hukum (menghasilkan ahkamul khamsah), tetapi juga sebagai Manhaj Al-Intaj (metodologi untuk memproduksi pengetahuan baru).

‎

‎Prof. Ansari memaparkan lagi, kerangka metodologinya dibangun dari tiga nalar yakni Nalar Qauli (tekstual), Nalar Kauni (empiris/sains), dan Nalar Falsafi (filosofis).

‎

‎"Dengan kolaborasi transdisipliner inilah, Hukum Islam akan mampu menjawab tantangan global secara utuh," jelas Prof Ansari.

‎

‎Sementara itu, Ketua Panitia Dr. Iwan Nasution mengatakan, International Conference adalah sebuah terobosan yang memadukan antara Ulama dan Akademisi. (Soni)

‎Sofyan Tan Sebut Fotografi Sebagai Arsip Visual Dan Cermin Identitas Bangsa Serta Media Kritik Sosial

Kamis, September 24, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) - Diikuti oleh fotografer dan jurnalis foto di Kota Medan, Kementerian Kebudayaan bersama Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan berkolaborasi dengan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan menggelar Semarak Budaya yang mengangkat tema 'Dalam Satu Bingkai Kebhinekaan, Ketika Fotografi Bercerita Tentang Indonesia' di Aula Gedung Anjungan Melayu, Jalan Setiabudi, Tanjung Rejo, Medan, Rabu (23/9/2026).

‎

‎Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, menyebut fotografi memiliki peran penting dalam merekam keberagaman budaya sekaligus menjadi arsip visual sebagai cermin identitas bangsa.

‎

‎Sofyan Tan mengatakan lagi, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sambung Sofyan Tan. Indonesia memiliki sekitar 1.340 suku bangsa dan hingga 729 bahasa daerah.

‎

‎Sofyan Tan menjelaskan lagi, Keberagaman itu tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai pakaian adat, tradisi, seni hingga kuliner. Karena itu, seluruh kekayaan tersebut perlu didokumentasikan agar menjadi arsip yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

‎

‎"Fotografi adalah arsip visual kebudayaan yang bisa merekam seluruh aktivitas kehidupan tradisi. Ia bukan sekadar ingatan, melainkan wujud nyata yang dapat merekam adat istiadat, busana, hingga gerak tari daerah,” ungkap Sofyan Tan.

‎

‎Selain sebagai rekam jejak sejarah, sambungnya lagi. Fotografi menurutnya memiliki fungsi sebagai cermin pembentuk identitas, sarana pendidikan dan diplomasi budaya, serta media kritik sosial.

‎

‎Ia mencontohkan, sebuah foto dapat menyampaikan pesan mengenai nilai kebersamaan dan pendidikan moral tanpa harus menggunakan banyak kata. Fotografi juga dapat merekam berbagai persoalan sosial, termasuk bencana dan isu keadilan sosial.

‎

‎Dari sisi kulinernya, Sofyan Tan membandingkan kekayaan kuliner Indonesia dengan negara lain seperti Thailand yang mengandalkan satu hidangan khas seperti Tom Yum.

‎

‎Untuk itu, menurutnya kekayaan dari beragamnya budaya nusantara dari kuliner Indonesia yang memiliki ciri khas unik seperti nasi goreng dan ratusan jenis soto lainnya ini perlu direkam dalam wujud nyata sebagai arsip visual.

‎

‎"Fotografi adalah arsip visual kebudayaan yang bisa merekam seluruh aktivitas kehidupan tradisi. Ia bukan sekadar ingatan, melainkan wujud nyata yang dapat merekam adat istiadat, busana, hingga gerak tari daerah," ujar Legislator dari Dapil Sumut 1 itu.

‎

‎Sofyan Tan menambahkan lagi. Sebuah foto dapat menyampaikan pesan pendidikan moral dan nilai kebersamaan antar-suku tanpa perlu banyak kata dan bahkan melalui bidikan momen bencana atau keadilan sosial, fotografi mampu menjadi sarana kritik konstruktif.

‎

‎Sofyan Tan juga mengingatkan pelaku fotografi agar menghadapi tantangan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ia pun menyebutkan sekitar 83 persen fotografer kini telah memanfaatkan AI dalam berkarya.

‎

‎Perkembangan AI tidak hanya berdampak pada dunia fotografi, tetapi juga berbagai profesi lain, termasuk dokter dan akademisi, terutama terkait persoalan etika dan plagiarisme.

‎

‎Berkaitan hal itu, Sofyan Tan meminta fotografer tetap mempertahankan keaslian dan sentuhan manusia dalam setiap karya.

‎

‎“Teknologi AI tidak memiliki perasaan, sedangkan manusia memilikinya. Saat seorang fotografer membidik objek, seluruh perasaannya mengalir ke sana. Walaupun bidikan foto hanya berlangsung satu detik, ia mampu meninggalkan kesan sepanjang zaman dan bahkan mempengaruhi kebijakan satu negara,” tegas Sofyan Tan.

‎

‎Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PFI Medan Risky Cahyadi, fotografer senior Dr Irsan Mulyadi M.I.Kom, Tenaga Ahli DPR RI Finche Kosmanto, Lisnawati Ginting dan Padapotan Tamba.

‎

‎Menanggapi hal tersebut, Fotografer Senior Dr Irsan Mulyadi M.I.Kom yang menjadi narasumber dalam acara tersebut memetakan kembali fungsi fotografi, baik jurnalistik maupun dokumenter dan sekaligus memetakan peran AI semata sebagai alat bantu (tool). 

‎

‎Irsan juga menyoroti adaptasi digital dengan membagi masyarakat ke dalam kelompok digital native dan digital immigrant. Ia menegaskan bahwa digital immigrant harus mau beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan prosedur digitalisasi saat ini, seperti penggunaan transaksi QRIS dalam kehidupan sehari-hari.

‎

‎Irsan mengatakan bahwa percepatan ilmu dan teknologi saat ini telah melampaui komputerisasi biasa dan menyentuh ranah kuantum.

‎

‎"Percepatan ilmu hari ini sudah sampai pada capaian kuantum, tidak hanya komputerisasi. Di sinilah pentingnya memetakan AI sebagai alat bantu.

‎

‎Sementara itu, Ketua PFI Medan Risky Cahyadi mengapresiasi dukungan dari para narasumber dan berharap kegiatan ini dapat terus memotivasi para pewarta foto untuk tetap konsisten menjalankan peran sebagai saksi fakta yang jujur, beretika, serta berwawasan global demi melestarikan budaya bangsa. (Soni)

‎Ketua PW MIO Indonesia Sumut Dan Ketua PD MIO Karo Besuk KaBid Humas Di RS Advent

Senin, September 21, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) - Ketua PW MIO Indonesia Sumatera Utara (Sumut) Fajar Trihatya SE, bersama Ketua PD MIO Indonesia Kabupaten Karo Jan Warista Ginting, mengunjungi Ketua Bidang Humas (KaBid) MIO Sumut, Joe Sidjabat, yang tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Advent Medan, Minggu (20/9/2026). 

‎

‎Kunjungan yang berlangsung hangat  penuh keakraban ini juga merupakan bentuk dukungan moril kepada KaBid Humas PW MIO Indonesia Sumut Joe Sidjabat agar semangat dan bersabar dalam menghadapi sakit.

‎

‎Fajar Trihatya menyampaikan motivasi semangat dan doa agar tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi proses penyembuhan. 

‎

‎“Setiap penyakit ada obatnya. Doa dan kesabaran penting, semoga Joe segera pulih dan bisa beraktivitas kembali seperti sediakala,” ujar Fajar kepada Joe sebagai bentuk dukungan.

‎

‎Hal senada juga disampaikan, Jan Warista Ginting. ia menambahkan bahwa kunjungan itu bertujuan untuk memberikan semangat serta memastikan bahwa kebutuhan Joe terpenuhi selama masa perawatan.


Kedua pimpinan organisasi juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi mental selama dirawat agar proses pemulihan berjalan lancar.

‎

‎Dalam kesempatan yang sama, Ketua PW MIO Sumut memberi pesan kepada Joe dan anggota pengurus lainnya untuk tetap bersyukur dan menjaga sikap positif meski berada di lingkungan rumah sakit. 

‎

‎"Dimanapun berada harus tetap senang hati dan tetap merasakan bahagia. Sebab apapun itu sakit yang kita rasakan pasti ada obatnya untuk menyembuhkannya," ungkap Fajar lagi.

‎

‎Kunjungan ini mendapat apresiasi dari keluarga pasien dan rekan-rekan pengurus yang menilai langkah tersebut sebagai simbol kuatnya kebersamaan organisasi di tengah tantangan pribadi anggotanya. 

‎

‎Joe Sidjabat, yang menerima kunjungan dengan senyum, senang dan rasa terharu, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan doa dari seluruh pengurus MIO Sumut.

‎

‎Organisasi MIO Sumut menyatakan akan terus memantau perkembangan kesehatan Joe dan siap memberikan dukungan semangat dan kebersamaan hingga proses pemulihan Joe Sidjabat selesai. (rel/soni)

IMO Sumut, SMSI Dan Puluhan Wartawan Medan Doakan Lima Jurnalis Yang Hilang Di Selat Sunda

Kamis, September 17, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Puluhan wartawan Medan mengetuk pintu langit dengan menggelar doa bersama di Surau Majelis Ilmu Fardu Ain (MIFA) Delitua, Deliserdang Sumatera Utara pada Rabu (16/9/2026).

‎

‎Kegiatan doa bersama yang turut dihadiri Ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Ikatan Media Online (IMO) Sumatera Utara (Sumut), H. Ahmad Nuar Erde, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumut Erris Napitupulu, dan sejumlah puluhan wartawan lainnya dilakukan untuk mendoakan lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Banten. 

‎

‎Informasi yang didapat hingga hari kesembilan saat ini, tim SAR Gabungan belum menemukan ke lima jurnalis beserta tiga orang awak kapal speedboat membawa mereka menjelajahi Selat Sunda. 

‎

‎Diinformasikan, Tim SAR Gabungan kembali memperluas area pencarian dengan mengerahkan 22 alat utama sistem pertolongan (alut) air. Armada tersebut disebar ke delapan sektor laut dengan total luas area pencarian mencapai sekitar 3.439 mil laut persegi.

‎

‎"Pada hari kesembilan ini, Tim SAR Gabungan kembali melaksanakan pencarian dengan mengerahkan 22 alut air yang dibagi ke dalam delapan sektor laut. Pencarian juga didukung oleh dua unit drone thermal Basarnas serta pemantauan di wilayah pesisir Pulau Enggano dan Perairan Bengkulu,” ujar Kepala Basarnas Al Amrad.

‎

‎Lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hingga kini masih dalam pencarian diantaranya M. Bagus Khoerunnas dari Jurnalis Antara, Arie Basuki Jurnalis Merdeka, Yudhistiro Pranoto jurnalis iNews, Firdaus Jaidi jurnalis Anadolu, dan Donal jurnalis freelance, kapten kapal Warta, ABK Surakman, dan guide Heriyanto.

‎

‎Do'a bersama mengetuk pintu langit ini dipimpin langsung oleh pimpinan Majelis Ilmu Fardu Ain (MIFA) Tuan Guru Deli (TGD) Prabu Kresna Erde dan sekaligus memberikan tausyiah singkat tentang kehidupan dikaitkan dengan profesi wartawan.

‎

‎"Profesi jurnalistik adalah profesi yang mulia di hadapan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa karena wartawan mengabarkan kehidupan. Saya yakin kelima sahabat kita ini tidak hilang tapi telah menyatu dengan Tuhan. Untuk itu hari ini kita do'akan semoga mereka tetap  berada di jalan yang benar. Insya Allah mereka syahid kerena takdir Allah SWT, " jelas  Prabu Kresna Erde yang merupakan Pembina DPW IMO Provinsi Sumatera Utara sekaligus mantan wartawan.

‎

‎Dalam sambutan singkatnya, Ketua DPW IMO Sumut, H Ahmad Nuar Erde mengatakan pihaknya berinisiatif menggelar do'a bersama ini untuk mengetuk pintu langit dengan memohon kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa agar kelima jurnalis beserta 3 kru kapal pemandu tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat dan terhindar dari musibah. 

‎

‎"Untuk itu kita mengucapkan terimakasih kepada seluruh wartawan yang hadir dalam kegiatan ini dan kepada Tuan Guru Deli Prabu Kresna Erde diucapkan terima kasih telah menyediakan surau ini sebagi tempat acara,” kata Nuar.

‎

‎Harapan senada juga disampaikan Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumut Erris Napitupulu. Ia berharap agar do’a ini dapat dihijabah Tuhan Yang Maha Kuasa.

‎

‎"Kita semua juga berdoa agar kelima sahabat jurnalis kita segera ditemukan bagaimanapun kondisinya. Kita juga berharap Tim SAR Gabungan dapat terus mengupayakan pencarian sahabat kita hingga mereka dapat ditemukan,” kata Erris. 

‎

‎Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut H. Farianda Putra Sinik yang berhalangan hadir sangat mendukung kegiatan tersebut dan berharap kelima jurnalis beserta 3 Kru Kapal dapat segera ditemukan. (Soni)

‎FOZ Sumut Ajak Lembaga Zakat Untuk Program Beasiswa 70 Anak Dan Rumah Singgah Pasien ‎

Rabu, September 16, 2026


‎MEDAN (Patimpus.com) - Forum Zakat (FOZ) Sumatera Utara mengajak 20 lembaga zakat untuk memperkuat kolaborasi dalam program beasiswa bagi 70 anak dan pembangunan Rumah Singgah Pasien. 

‎

‎Kedua program tersebut menjadi pembahasan utama dalam Rapat Kolaborasi FOZ Sumut bertemakan 'Bersinergi Menguatkan Gerakan Zakat, Mewujudkan Dampak yang Berkelanjutan' di Aula Yayasan Politeknik Kesehatan YRSU Dr. Rusdi, Medan, Selasa (15/9/2026).

‎

‎Ketua FOZ Sumatera Utara, Sulaiman SHI MH, mengatakan kolaborasi antarlembaga zakat diperlukan agar potensi zakat dapat dikelola secara lebih optimal dan diarahkan pada program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

‎

‎“Kolaborasi menjadi penting agar potensi zakat yang ada dapat kita kelola bersama secara lebih optimal. Dengan bersinergi, program yang dijalankan diharapkan memiliki dampak yang lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Sulaiman dalam pembukaan kegiatan.

‎

‎Salah satu program yang ditawarkan dalam rapat tersebut adalah penyelamatan pendidikan 70 anak di Yayasan Politeknik Kesehatan YRSU Dr. Rusdi. 

‎

‎Hadir langsung, Direktur Politeknik Kesehatan YRSU Dr. Rusdi, Ikhsan Ibrahim Pohan, SKM., M.Kes., memaparkan program beasiswa tersebut sekaligus mengajak lembaga zakat untuk turut mendukung keberlanjutan pendidikan para penerima manfaat.

‎

‎Menurut Ikhsan, dukungan melalui program beasiswa diharapkan dapat memastikan 70 anak tetap memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensi mereka.

‎

‎“Program ini merupakan ikhtiar untuk memastikan anak-anak tetap dapat melanjutkan pendidikan. Kami mengajak lembaga zakat untuk bersama-sama membantu mereka agar kesempatan belajar dan mengembangkan potensi tidak terhenti,” katanya.

‎

‎Selain program pendidikan, FOZ Sumut juga mendorong kolaborasi dalam Program Rumah Singgah Pasien. Program ini dipaparkan oleh Ketua Program Bidang III FOZ Sumut Bidang Sinergi dan Kolaborasi, Koko.

‎

‎Rumah Singgah Pasien ditujukan bagi pasien maupun keluarga pasien yang membutuhkan tempat tinggal sementara selama menjalani pengobatan. 

‎

‎Kehadiran rumah singgah diharapkan dapat membantu meringankan beban pasien dan keluarga, terutama mereka yang harus menjalani perawatan jauh dari tempat tinggal.

‎

‎Koko mengatakan program tersebut membutuhkan dukungan dan keterlibatan bersama dari lembaga-lembaga zakat agar dapat berjalan secara optimal.

‎

‎“Rumah Singgah Pasien merupakan bentuk kepedulian kita kepada pasien dan keluarga yang membutuhkan tempat tinggal selama menjalani pengobatan rujukan seperti di RS Adam Malik. Karena itu, kami mengajak lembaga zakat untuk berkolaborasi agar program ini dapat diwujudkan dan memberikan manfaat bagi lebih banyak masyarakat,” ujar Koko.

‎

‎Rapat kolaborasi tersebut turut mendapat dukungan dari Ketua Yayasan Politeknik Kesehatan YRSU Dr. Rusdi, Dra. Hj. Marlina Rusdi Nasution, M.Fis. 

‎

‎Ia mengapresiasi pertemuan yang mempertemukan berbagai lembaga zakat dalam satu forum untuk membahas program sosial yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

‎

‎“Kolaborasi seperti ini penting karena mempertemukan berbagai potensi untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

‎

‎Rapat yang dihadiri 20 lembaga zakat tersebut diakhiri dengan penandatanganan komitmen dari masing-masing lembaga sembari menindaklanjuti program yang telah dibahas sebelumnya. (Soni)

PFI Medan Gelar Doa Dan Zikir Untuk ‎Lima Pewarta Foto Hilang Kontak Di Selat Sunda

Selasa, September 15, 2026


MEDAN (patimpus.com) - Sebagai bentuk solidaritas dan wujud empati terhadap lima pewarta foto yang hilang kontak di Selat Sunda saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026 lalu. 

Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan, bersama sejumlah jurnalis di Kota Medan menggelar serangkaian aksi kegiatan yang dimulai dengan zikir dan doa bersama di Mushola Jurnalis dilanjutkan pemasangan lilin serta menyuarakan harapan melalui selebaran foto di Bundaran Air Mancur jalan Sudirman. Senin (14/9/2026) Malam.

‎Zikir dan do'a yang dipanjatkan dalam aksi solidaritas dan dukungan moril ini, 

‎selain memanjatkan doa keselamatan untuk kelima Jurnalis, PFI Medan bersama sejumlah jurnalis di Kota Medan juga menghaturkan doa terbaik bagi sesama rekan jurnalis khususnya yang ada di Kota Medan agar diberikan kesehatan dan keselamatan saat melakukan tugas liputan jurnalistik.

‎Hal tersebut dikatakan Ketua PFI Medan disela aksi pemasangan lilin di Bundaran Air Mancur jalan Sudirman, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan.

‎"Hari ini, kami Pewarta Foto Indonesia Medan bersama kawan-kawan jurnalis se-Kota Medan, mengadakan doa, tahlil, dan zikir bersama untuk rekan-rekan kita lima orang yang saat ini masih dinyatakan hilang di Perairan Banten saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Lalu dilanjutkan dengan menyalakan lilin bersama," ujar Ketua PFI Kota Medan, Riski Cahyadi.

‎Sejak dinyatakan hilang kontak, sejauh ini sudah tujuh hari lima pewarta foto yakni M. Bagus Khoirunnas (Kantor Berita Antara), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews.id), Firman Daus (Anadolu Agency), Donal Husni (Freelance) masih belum ditemukan. Melalui kegiatan ini, dirinya mengatakan jurnalis di Kota Medan menaruh harapan besar kepada semua tim yang melakukan pencarian bisa membuahkan hasil maksimal. 

‎Di Bundaran Air Mancur, cahaya lilin yang menerangi foto dan berbagai selebaran bertuliskan secercah harapan agar seluruh rekan jurnalis yang hilang kontak tersebut dapat segera ditemukan.

‎"Harapannya kita sama-sama segeralah ditemukan lima rekan kita bersama tiga kru kapal boat dalam keadaan sehat walafiat," kata Riski Cahyadi.

‎Riski juga mengatakan lagi, sebagai dukungan dan solidaritas, tentunya melalui doa bersama ini termasuk juga merupakan salah satu langkah usaha yang dilakukan oleh sesama rekan jurnalis yang ada di Kota Medan. 

‎Proses pencarian memang merupakan wewenang dari pihak terkait, namun Riski berharap agar proses pencarian dilakukan dengan kekuatan penuh untuk menemukan dan melakukan pencarian terhadap semua korban.

‎"Harapannya itu sampai ketemulah, dalam kondisi apapun gitu. Ya, harapannya dalam keadaan sehatlah. mereka, kawan-kawan kita," ungkap Riski. (Soni)

‎Matangkan Program Kerja, PW MIO Indonesia Sumut Gelar Rapat Koordinasi Lanjutan ‎

Rabu, Agustus 26, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) - Untuk mematangkan sejumlah agenda strategis menjelang pelantikan, Jajaran Pengurus dan anggota Pimpinan Wilayah (PW) Media Independen Online (MIO) Indonesia Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menggelar Rapat Koordinasi Lanjutan di Kantor Sekretariat PW MIO Sumut, jalan Besar Tanjung Selamat No.112 B, Kabupaten Deli Serdang. Rabu (26/8/2026).

‎

‎Kegiatan rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari konsolidasi organisasi PW MIO Indonesia Sumut yang membahas lima agenda utama, yakni:

‎1. Rencana pelantikan PW MIO Sumut.

‎2. Rencana audiensi organisasi.

‎3. Pembentukan panitia pelantikan MIO Sumut.

‎4. Penyusunan dan pelaksanaan program kerja organisasi.

‎5. Rencana pemberlakuan iuran anggota MIO Sumut.

‎

‎Pembahasan tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh perangkat organisasi agar memiliki arah kerja yang jelas serta mampu menjalankan roda organisasi secara terstruktur dan profesional.

‎

‎Rapat koordinasi tersebut dipimpin langsung oleh Ketua PW MIO Indonesia Sumatera Utara, Fajar Trihatya, SE, bersama Sekretaris Wilayah Rusli, SE., SH., MH dan jalannya konsolidasi diharapkan dapat mendorong seluruh pengurus serta anggota agar aktif dalam mengambil bagian untuk penguatan organisasi.

‎

‎*MIO Sumut Harus Hadir Hingga Pelosok Daerah*

‎

‎Dalam sambutannya, Ketua PW MIO Indonesia Sumut Fajar Trihatya, SE menegaskan bahwa konsolidasi internal merupakan fondasi penting dalam membangun organisasi yang solid.

‎

‎“Rapat koordinasi ini bukan sekadar membahas agenda pelantikan, tetapi bagaimana kita menyatukan langkah dan membangun komitmen bersama untuk memajukan MIO Indonesia di Sumatera Utara.” jelas Fajar.

‎

‎Menurut Fajar, keberadaan MIO Sumut diharapkan tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi mampu berkembang hingga ke berbagai daerah di Sumatera Utara.

‎

‎“Kita ingin MIO Sumut menjadi organisasi yang solid, profesional dan mampu memberikan kontribusi positif bagi insan media. Karena itu, kita harus membangun jaringan organisasi sampai ke pelosok daerah Sumatera Utara,” tegasnya.

‎

‎Ia juga mengajak seluruh jajaran pengurus dan anggota untuk menjaga kekompakan, meningkatkan profesionalisme serta menjalankan organisasi sesuai ketentuan yang telah disepakati bersama.

‎

‎*Konsolidasi Jadi Kunci Penguatan Organisasi*

‎

‎Sementara itu, Sekretaris Wilayah PW MIO Indonesia Sumut Rusli, SE., SH., MH menekankan pentingnya koordinasi antarpengurus agar setiap agenda organisasi dapat berjalan efektif.

‎

‎Menurutnya, pembentukan kepanitiaan pelantikan, program kerja serta rencana audiensi harus dipersiapkan secara matang sehingga pelaksanaan seluruh agenda organisasi dapat berlangsung terarah dan bertanggung jawab.

‎

‎Rapat koordinasi tersebut sekaligus menjadi momentum memperkuat soliditas internal PW MIO Indonesia Sumut.

‎

‎Dengan semangat kebersamaan, jajaran pengurus dan anggota berkomitmen membangun MIO Indonesia Sumut sebagai wadah organisasi media yang profesional, independen, solid dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan pers serta masyarakat di Sumatera Utara.

‎

‎"Rapat koordinasi boleh berakhir, tetapi konsolidasi organisasi harus terus berjalan." tutup Rusli.  (rel/soni)

‎Pameran Foto PFI Di Plaza Medan Fair Tampilkan Rekam Jejak Ketangguhan Sumatera Bangkit Dari Bencana

Kamis, Agustus 20, 2026


‎MEDAN (patimpus.com) -  Pewarta Foto Indonesia (PFI) bersama Yayasan mataWaktu dan PLN menggelar roadshow pameran foto terakhir di Kota Medan.

‎

‎Pameran foto bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh, Padang dan Sumatera Utara bertajuk 'Prahara Pulau Emas' ini digelar meriah di Atrium Utara Plaza Medan Fair, Lantai 1, Kota Medan, pada Rabu (19/8/2026).

‎

‎Pameran foto di Kota Medan tersebut merupakan lokasi terakhir dalam road show pameran foto 3 kota yang dimulai sejak 27 Juli 2026 di Kota Padang, Sumatera Barat dan menampilkan 140 karya yang dibukukan dan 68 karya dipamerkan dari 48 Pewarta Foto se-Indonesia.

‎

‎Kegiatan pameran foto 'Prahara Pulau Emas' tersebut dibuka langsung oleh Walikota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas yang ditandai dengan penandatanganan poster kegiatan oleh Rico Waas bersama Ketua PFI Medan Riski Cahyadi.

‎

‎Tidak hanya sekedar menampilkan pameran foto biasa, para pengunjung bisa merasakan visual langsung dari vibes perjuangan pemulihan listrik dan ketangguhan para survivor buat bangkit kembali pasca bencana. 

‎

‎Ketua Panitia Pameran, Irsan Mulyadi, melaporkan kepada Walikota bahwa karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil Para pewarta foto terbaik yang berasal dari Aceh, Medan, Padang, hingga Jakarta, serta kantor berita asing, kantor berita nasional, dan media di Sumatra Utara.

‎

‎"Kita membuat pameran foto di Medan. Pameran fotonya itu bercerita tentang bencana di Aceh, Sumatera, dan di Sumatera Barat," ujar Irsan.

‎

‎Ia menjelaskan tujuan pameran bukan untuk bersedih, melainkan mengingatkan masyarakat bahwa Sumatera merupakan daerah rawan bencana.

‎

‎"Kita bukan mau bersedih dengan pameran foto ini. Tetapi kita ingin mengingatkan kepada masyarakat bahwa kita hidup di daerah bencana. Kapan saja bencana itu bisa terjadi. Jadi kita harus bisa memitigasi, kita harus bisa berempati," katanya.

‎

‎Menurut Irsan, puncak dari pameran ini adalah harapan. "Bukan kita mau memamerkan tentang kesedihan, tidak. Tetapi ada satu harapan yang ingin kita sampaikan kepada publik. Bahwa ini kita harus bangkit," tegasnya.

‎

‎Selain itu, Irsan menyebut PFI juga aktif memberikan edukasi di sekolah dan berbagai lembaga. Ia membanggakan bahwa PFI merupakan satu-satunya organisasi pewarta foto di Indonesia yang memiliki 4 anggota bergelar doktor dan sedikitnya 8 bergelar master.

‎

‎Dalam sambutannya, Rico Waas mengapresiasi kerja para pewarta foto. Ia menyebut foto memiliki kekuatan narasi yang lebih dalam dibanding video.

‎

‎"Sebuah foto itu menceritakan ribuan kata. Karena dia di salah satu frame yang tidak bergerak, tapi kita yang bisa memaknainya, bisa menceritakan mungkin panjang lebar dari A sampai Z," ujar Rico.

‎

‎Ia mencontohkan salah satu foto dalam pameran yang menampilkan seorang laki-laki memakai daster saat banjir. Menurutnya, foto itu memiliki makna mendalam tentang belum tersalurkannya bantuan pakaian saat itu.

‎

‎Rico juga mengenang masa-masa awal bencana. Pada 26 November 2025 malam, ia bersama seluruh OPD dan Forkopimda tidak tidur karena debit air Sungai Deli naik sangat cepat. Beberapa camat bahkan tidak bisa dihubungi karena rumahnya terendam.

‎

‎"Ada camat yang bercerita, kami bertahan dua hari Pak. Saya hanya mikirkan anak saya. Anak saya kasih makan pakai Indomie sama air dingin," kenangnya.

‎

‎Walikota menegaskan Pemko Medan siap berkolaborasi dan menyediakan ruang bagi PFI untuk pameran serupa di masa depan. 

‎

‎"Kalau Pak Wali sudah tahu tentang stringer. Jadi saya yakin tempat itu bakal ada. Tapi teman-teman juga harus komitmen untuk menjaga Pak Wali," canda Irsan yang dijawab setuju oleh Walikota.

‎

‎Sementara itu, Korwil PFI Sumatera Utara, Hendra Syamhari, menjelaskan Prahara Pulau Emas sebelumnya telah diluncurkan dalam bentuk buku foto di Yogyakarta pada 25 Juli 2026. Pameran kemudian digelar di Istana Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatra Barat, dan di Banda Aceh pada 3–8 Agustus 2026.

‎

‎Dia menyebut para pewarta foto rela meninggalkan keluarga demi mengabadikan kondisi di lapangan.

‎

‎"Ada adik kita, Yudi. Anaknya masih bayi, dia tinggalkan anak dan istrinya naik sepeda motor untuk meliput," kata Hendra.

‎

‎Menurutnya, tujuan pameran ini adalah untuk mencatat sejarah. "Besok anak cucu kita akan melihat Sumatera pernah hancur akibat tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Ini sebuah sejarah yang sudah kita torehkan," ujarnya.

‎

‎Acara ini juga mendapat dukungan dari Pelindo Multi Terminal, PT Agincourt Resources dan Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1. (Soni)

Ekobis

Pendidikan

Hukum

Kesehatan

Komunitas

Jajanan

Peristiwa

Tradisi